Whatsap Saya

Jawatan Kosong Kerajaan & Swasta Terkini 2020

koleksi kitab

Tuesday, May 21, 2019

SIFAT-SIFAT ORANG-ORANG KAFIR

Sifat-Sifat Orang-Orang Kafir

Oleh
Syaikh Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qâsim
Allâh Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk dengan qudrah-Nya, kemudian dengan anugerah-Nya, Allah Azza wa Jalla memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan dengan keadilan-Nya, Allah Azza wa Jalla menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya. Semua ini tertulis pada lauhul mahfûdz. Allâh berfirman :
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Dia-lah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allâh Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” [at-Taghâbun/64 : 2]
Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan jalan orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan serta orang-orang yang celaka. Allah Azza wa Jalla memuji para hamba yang bertakwa dan mencela orang-orang kafir. Allah Azza wa Jalla juga mengingatkan para hamba-Nya agar tidak latah meniru sifat-sifat orang kafir. Dalam al-Qur’ân banyak penjelasan tentang perbuatan dan keyakinan rusak orang-orang kafir serta perangai dan sifat-sifat mereka yang buruk. Diantaranya, mengingkari hari kebangkitan dan menganggapnya mustahil, tidak beriman kepada takdir, mengeluh dan berkeluh kesah ketika tertimpa musibah, tidak punya harapan kepada Allah Azza wa Jalla , dusta, sombong, berpaling dari ayat-ayat-Nya, hati mereka penuh hasad (rasa iri) terhadap kaum Mukminin yang telah mendapatkan nikmat iman dan mereka berharap nikmat iman itu sirna dari kaum Muslimin. Hasad inilah yang mendorong mereka berusaha menyesatkan orang beriman. Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً
Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka).[an-Nisâ/4:89]
Tak henti-hentinya, orang-orang kafir membuat makar dan menipu kaum Muslimin, berusaha mencelakakan dan merampas kenikmatan dari kaum Muslimin. Mereka berpura-pura amanah, berprilaku dan berperangai terpuji supaya bisa mengambil manfaat dibalik semua ini. Namun, Allah Azza wa Jalla membongkar kedok mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil orang-orang yang di luar kalanganmu menjadi teman kepercayaanmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” [Ali Imrân/3:118)]
Membungkus kedustaan dengan kejujuran, khianat dengan amanah, sering membela kebatilan dan menyembunyikan kebenaran. Meski tipu daya mereka terhadap kaum Muslimin sangat luar biasa, namun Allah Azza wa Jalla tidak akan tinggal diam. Allah Azza wa Jalla pasti akan menghancur leburkan tipu daya mereka serta akan merendahkan dan menghinakan mereka.
Allah melarang rasul-Nya mentaati orang-orang kafir. Allah Azza wa Jalla berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ
Hai Nabi, bertakwalah kepada Allâh dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. [al-Ahzâb/33:1]
Karena ilmu mereka hanya sebatas dunia. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah mengatakan, “Seluruh amalan dan urusan orang kafir pasti ada cacatnya sehingga manfaatnya tidak pernah maksimal.” Orang-orang kafir tidak tahu menahu ilmu akhirat. Allah Azza wa Jalla berfirman :
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” [ar-Rûm/30:7]
Mereka hidup penuh kebingungan dan kebimbangan. Tujuan yang selalu mereka kejar dalam hidup hanya sebatas bersenang-senang, makan dan minum, tanpa peduli halal dan haram.
Orang-orang kafir itu selalu menghalangi perbuatan baik, tidak bisa berterima kasih dan mengkonsumsi barang haram. Allâh berfirman :
يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ
Mereka mengetahui nikmat Allâh, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir. [an-Nahl/16:83]
Mereka hidup dalam kegelapan, kesesatan serta hanya memperturutkan hawa nafsu. Anggota tubuh yang mestinya merupakan sarana menggapai hidayah sudah tidak berfungsi lagi. Hati mereka mati, telinga mereka tuli dan mata mereka buta, tidak mau mendengar dan melihat kebenaran. Setan menggiring mereka untuk selalu bermaksiat dan mencari kesenangan-kesenangan nafsu sesaat. Sehingga apa yang mereka lakukan seperti debu yang berterbangan. Amal kebaikan mereka tidak berguna. Di dunia mereka letih dan di akherat mereka akan merintih tersiksa. Allâh tidak mencintai mereka bahkan Allah Azza wa Jalla mengkhabarkan bahwa Dia musuh orang-orang kafir. Jika Allah Azza wa Jalla benci terhadap seorang hamba, Dia memanggil malaikat Jibril Alaihissallam, “Wahai Jibril sesunggunya Aku benci kepada Fulan, maka bencilah dia ! Dan Jibril pun membencinya. Kemudian Jibril menyeru seluruh penduduk langit bahwa Allah Azza wa Jalla membenci Fulan, maka bencilah dia ! Maka penghuni langit pun membencinya. Kemudian ditetapkan baginya kebencian di muka bumi.” [HR. Bukhâri dan Muslim]
Jiwa orang kafir menjerit pedih akibat dosa-dosa yang telah ia perbuat dan karena jauh dari Allah Azza wa Jalla , dadanya terasa sesak serta tidak pernah merasakan manisnya iman. Laknat dan murka menimpa mereka. Mereka adalah makhluk Allâh yang paling buruk. Allah Azza wa Jalla berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. [al-Bayyinah/98 : 6]
Kematian seorang kafir akan menimbulkan ketenangan dan ketentraman bagi penduduk dunia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ketika melihat rombongan membawa jenazah :
الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ
Hamba yang beriman akan istirahat dari keletihan dan derita dunia menuju rahmat Allah sementara hamba yang fâjir (bergelimang maksiat, jika dia mati-red) maka manusia, negeri, pepohonan dan binatang melata akan terbebas dari keburukannya [HR. Bukhâri]
Pada hari kiamat, orang-orang kafir akan dibangkit untuk dihisab dengan wajah hitam pekat, berdebu serta bermuka masam. Kedua mata mereka terbelalak karena terperangah kaget dan takut; leher mereka terikat dengan rantai sebagai balasan yang setimpal.
Inilah ini sebagian dari sifat-sifat buruk orang-orang kafir beserta balasan yang akan mereka terima. Keburukan yang bertumpuk-tumpuk tanpa henti, maka hendaklah kita berhati-hati dan tetap menjaga diri kita agar tidak terjerumus kedalam kekufuran. Kepedihan akibat dari sifat-sifat buruk mereka, hendaknya kita jadikan pelajaran berharga agar tidak mudah membeo prilaku mereka yang terkadang menipu dan tidak mudah mengamini ucapan-ucapan dan janji-janji manis mereka. Ingatlah sabda nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
بَادِرُوْا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ, يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِيْ كَافِرًا, وَيُمْسِيْ مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا, يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا قَلِيْل
Bersegeralah melakukan amal shaleh sebelum datangnya fitnah seperti malam gelap gulita; pada pagi hari seseorang beriman dan sore harinya menjadi kafir, atau sore hari dia mu’min kemudian pada pagi harinya menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan sedikit dari dunia [HR Ahmad]
Dan hendaklah kita senantiasa waspada agar tidak terjebak arus mengikuti orang-orang kafir. Marilah kita senantiasa mengikuti jalannya orang-orang yang bertakwa. Shalat yang menjadi batas antara keimanan dengan kekufuran, batas antara keimanan dan kemunafikan, hendaklah senantiasa dijaga dan dilaksanakan dengan cara berjama’ah di masjid-masjid. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
Pembatas antara kita dan mereka adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkan shalat, berarti dia telah kafir
Setelah mengetahui berbagai sifat buruk dan belasan dari keburukan yang dilakukan orang-orang kafir, mestinya kita berusaha maksimal menghindari sikap membeo dan meniru-meniru mereka. Generasi shahabat, tabi’in dan tabi’in yang merupakan generasi awal umat ini sekaligus generasi terbaik, hendaklnya kita jadikan panutan. Karena keserupaan atau kesamaan fisik bisa menyebabkan kesamaan atau keserupaan bathin. Oleh karena itu hendaknya kita berusaha menyerupai dan meniru generasi awal umat ini. Semoga agama dan akhlaq kita sedikit demi sedikit bisa meniru akhlak dan agama mereka. Sebaliknya, janganlah kita latah meniru dan menyerupai penampilan orang-orang kafir. Karena penyerupaan bisa menyeret kita untuk berperilaku buruk sebagaimana mereka, minimalnya akan menimbulkan rasa suka dan loyal kepada mereka, padahal mestinya kita bara’ dari mereka dan perilaku buruk mereka. Sebagai insan yang beriman, kita wajib berusaha menyelisihi perilaku dan keyakinan orang kafir. Janganlah kita menjadikan mereka sebagai wali ! Bencilah mereka karena keyakinan mereka yang bathil ! Dan hendaknya kita bangga beragama Islam dan bersemangat untuk mendakwahi mereka kepada Islam.


Baca Selengkapnya : https://almanhaj.or.id/3692-sifat-sifat-orang-orang-kafir.html

Memuji Non Muslim, Orang Kafir dan Agama Kafir

Memuji Non Muslim, Orang Kafir dan Agama Kafir
Bagaimanakah hukum memuji non muslim atau orang kafir? Bagaimana juga jika sampai memuji agama atau kekafiran mereka?
Dalam Al Qur’an, kita tidak diperbolehkan menjadikan non muslim sebagai pemimpin kita atau menjadikan mereka sebagai awliya’. Namun maksud awliya’ juga adalah menjadikan sebagai kekasih, orang yang dicintai, dan teman dekat, seperti itu tidak dibolehkan. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah: 51)
Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al Jalalain, yang dimaksud menjadikan Yahudi dan Nashrani sebagai awliya’ adalah menjadikan sebagai pemimpin dan sebagai teman.
Siapa yang menjadikan Yahudi dan Nashrani sebagai pemimpin dan teman dekat, maka ia termasuk golongan mereka. Yang dimaksud kata Syaikh As Sa’di dalam kitab tafsirnya, siapa yang mencintai orang kafir secara sempurna, maka ia berarti berpindah pada agama mereka. Siapa yang mencintai sedikit, maka dapat menyeret pada kecintaan yang lebih. Perlahan-lahan akan mencintai mereka secara berlebihan sampai akhirnya pun menjadi bagian dari mereka. Itulah efek jelek dari mencintai orang kafir.
Jika loyal pada orang kafir tidaklah dibolehkan, maka memuji mereka pun tidak diperkenankan. Inilah di antara prinsip muslim yang telah dicontohkan oleh para ulama kita.
Al ‘Allamah Abu Ath Thoyyib Shidiq bin Hasan Al Bukhari rahimahullah dalam kitabnya Al ‘Ibrah (hal. 245), ia berkata,
وأما من يمدح النصارى ، ويقول إنهم أهل العدل ، أو يحبّون العدل ، ويكثر ثناءهم في المجالس ، ويهين ذكر السلطان للمسلمين ، وينسب إلى الكفار النّصيفة وعدم الظلم والجور ؛ فحكم المادح أنه فاسق عاص مرتكب لكبيرة ؛ يجب عليه التوبة منها والندم عليها ؛ إذا كان مدحه لذات الكفار من غير ملاحظة الكفر الذي فيهم . فإن مدحهم من حيث صفة الكفر فهو كافر
“Siapa saja yang memuji orang Nashrani, menyatakan mereka adalah orang yang adil, orang Nashrani itu mencintai keadilan, pujian seperti ini pun banyak disuarakan di majelis, maka yang memuji termasuk orang fasik dan pelaku dosa besar.
Sedangkan sikapnya untuk pemimpin atau raja muslim jadi dihinakan. Adapun orang kafir diagung-agungkan dan tidak pernah disebut zalim. Orang yang melakukan seperti itu wajib bertaubat dan menyesal atas sikapnya.
Sedangkan kalau yang dipuji adalah dari sisi akidah kafir yang mereka anut, maka memuji mereka termasuk kekafiran.”
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al Barrak hafizhohullah berkata,
” من اعتقد أن اليهود والنصارى على دين صحيح فهو كافر ، ولو عمل بكل شرائع الإسلام وأنه مكذب لعموم رسالته صلى الله عليه وسلم .وعلى هذا فذِكر ما عند الكفار من أخلاق محمودة على وجه المدح لهم والإعجاب بهم وتعظيم شأنهم حرام ، لأن ذلك مناقض لحكم الله فيهم ” انتهى .
“Siapa yang meyakini bahwa agama Yahudi dan Nashrani itu benar, maka ia kafir walaupun ia menjalani berbagai syariat Islam. Realitanya ia telah mendustakan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Contohnya saja yang memuji non muslim dari sisi akhlak, kagum pada tingkah laku serta mengagungkan mereka, demikian itu haram. Seperti itu bertentangan dengan hukum Allah pada mereka.”

NGA KOR MING BAGI BANTUAN TERUS PUJA DAN PUJI... alquran dah bagi peringatan ..... pun masih tak peraya dan yakin
Tafsir Al-Qur’an Surat Ali Imran Ayat 118: Jangan Mudah Percaya Dengan Orang Kafir HARBI
Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman KEPERCAYAANmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karana) mereka tidak henti hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah NYATA KEBENCIAN dari mulut mereka, dan apa yang DISEMBUNYIKAN oleh hati mereka adalah LEBIH BESAR lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), JIKA KAMU MEMAHAMINYA.” (QS. Ali Imran[3]: 118)
AYAT INI DITUJUKAN KEPDA MEREKA YG BERIMAN SAJA... TAK BERIMAN SILA ABAIKAN
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ «الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»
Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Hakim dan dinilai shahih oleh Hakim serta disetujui oleh adz Dzahabi. Demikian juga dinilai shahih oleh an Nawawi, dll)
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, beliau mengatakan, “Nilailah seseorang dengan teman dekatnya.”
Setelah itu Allah menjelaskan sebab dilarangnya menjalin kedekatan dengan mereka. Mereka selalu mencurahkan segala daya upaya untuk menyengsarakan kalian. Dengan kata lain, jika mereka tidak memerangi kalian secara terang-terangan maka mereka tidak pernah kenal lelah membuat tipu daya untuk kalian.
Ketika menjelaskan potongan ayat ini, Muqatil bin Hayyan mengatakan, “Mereka hendak menyesatkan kalian sebagaimana mereka telah sesat. Maka Allah melarang orang-orang beriman untuk memasukkan orang-orang munafik dengan meninggalkan orang-orang yang beriman ke dalam rumah atau menjadikan mereka sebagai orang dekat.” (Riwayat Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang hasan).
Ayat di atas juga menjadi dalil seorang musuh tidak boleh memberikan persaksian yang menyudutkan kepada orang yang menjadi musuhnya. Inilah pendapat para ulama’ terdahulu yang berdomisili di Madinah dan Hijaz (Mekkah, Madinah dan sekitarnya) pada umumnya.
Sedangkan Imam Abu Hanifah membolehkan hal tersebut sebagaimana dalam salah satu riwayat. Ibnu Bathal mengutip penyataan Ibnu Sya’ban, “Para ulama bersepakat bahwa musuh tidak boleh memberikan persaksian yang menyudutkannya kepada yang menjadi musuhnya dalam kasus apapun meski dia adalah seorang yang baik agamanya.
Jadi permusuhan itu menghilangkan nilai kejujuran seseorang. Lalu bagaimana dengan permusuhan dengan orang kafir.” Pada akhir ayat Allah menegaskan bahwa rasa benci yang disembunyikan oleh orang-orang kafir itu jauh lebih besar lagi dibandingkan yang dinampakkan dengan mulut.

Jangan Mudah Percaya Dengan Orang Kafir HARBI

NGA KOR MING BAGI BANTUAN TERUS PUJA DAN PUJI... alquran dah bagi peringatan ..... pun masih tak peraya dan yakin

Tafsir Al-Qur’an Surat Ali Imran Ayat 118: Jangan Mudah Percaya Dengan Orang Kafir HARBI

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman KEPERCAYAANmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karana) mereka tidak henti hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah NYATA KEBENCIAN dari mulut mereka, dan apa yang DISEMBUNYIKAN oleh hati mereka adalah LEBIH BESAR lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), JIKA KAMU MEMAHAMINYA.” (QS. Ali Imran[3]: 118)


AYAT INI DITUJUKAN KEPDA MEREKA YG BERIMAN SAJA... TAK BERIMAN SILA ABAIKAN


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ «الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»

Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Hakim dan dinilai shahih oleh Hakim serta disetujui oleh adz Dzahabi. Demikian juga dinilai shahih oleh an Nawawi, dll)

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, beliau mengatakan, “Nilailah seseorang dengan teman dekatnya.”

Setelah itu Allah menjelaskan sebab dilarangnya menjalin kedekatan dengan mereka. Mereka selalu mencurahkan segala daya upaya untuk menyengsarakan kalian. Dengan kata lain, jika mereka tidak memerangi kalian secara terang-terangan maka mereka tidak pernah kenal lelah membuat tipu daya untuk kalian.

Ketika menjelaskan potongan ayat ini, Muqatil bin Hayyan mengatakan, “Mereka hendak menyesatkan kalian sebagaimana mereka telah sesat. Maka Allah melarang orang-orang beriman untuk memasukkan orang-orang munafik dengan meninggalkan orang-orang yang beriman ke dalam rumah atau menjadikan mereka sebagai orang dekat.” (Riwayat Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang hasan).

Ayat di atas juga menjadi dalil seorang musuh tidak boleh memberikan persaksian yang menyudutkan kepada orang yang menjadi musuhnya. Inilah pendapat para ulama’ terdahulu yang berdomisili di Madinah dan Hijaz (Mekkah, Madinah dan sekitarnya) pada umumnya.

Sedangkan Imam Abu Hanifah membolehkan hal tersebut sebagaimana dalam salah satu riwayat. Ibnu Bathal mengutip penyataan Ibnu Sya’ban, “Para ulama bersepakat bahwa musuh tidak boleh memberikan persaksian yang menyudutkannya kepada yang menjadi musuhnya dalam kasus apapun meski dia adalah seorang yang baik agamanya.

Jadi permusuhan itu menghilangkan nilai kejujuran seseorang. Lalu bagaimana dengan permusuhan dengan orang kafir.” Pada akhir ayat Allah menegaskan bahwa rasa benci yang disembunyikan oleh orang-orang kafir itu jauh lebih besar lagi dibandingkan yang dinampakkan dengan mulut.



Monday, May 20, 2019

woi PBB Is killing Muslims not breaking ham?

Wahai PBB...
You urge the sultan of Brunei to cancel the law of stoning by reason of breaking the ham.
But you never urged the Israeli government to stop killing Muslims in Palestine.
Is killing Muslims not breaking ham?

Saturday, May 18, 2019

Kawah Yellowstone bakal meletus ?


Kawah Yellowstone bakal meletus, 5 bilion populasi dunia akan pupus - Pakar

Astro Awani | Diterjemahkan oleh: Nursyazwani Saiful Sham



Yellowstone National Park, kawah lava membara dalam diam. -AP
AHLI geologi memberi amaran dua pertiga populasi dunia ini akan pupus sekiranya kawah berapi Yellowstone meletus.

Hebatnya letusan ini juga akan menyebabkan seluruh Amerika Syarikat musnah.

Menurut Dr Jerzy Zaba dari University of Silesia di Poland, letusan itu sangat berbahaya dan ia merupakan kejadian alam yang tidak dapat dielakkan, lapor Daily Star.

Kawah berapi yang terletak di Yellowstone National Park di Wyoming, Amerika Syarikat ini dilapor bakal meletus pada bila-bila masa sahaja dengan beberapa amaran dikeluarkan sejak beberapa tahun kebelakangan ini.

“Saya menjangkakan letusan yang sama seperti 640,000 tahun dahulu bakal berlaku sekali lagi dan letusan itu sangat hebat sehingga memusnahkan kebanyakan daerah di AS.

“Bahan-bahan letusan dari kawah itu akan meliputi segalanya dalam radius 500 kilometer.
Malah, akibat dari debu dan pembebas gas dari sulfur monoksida ke ruang udara akan menyebabkan cuaca sejuk.

“Saya turut menjangkakan akibat dari letusan kawah berapi yang menyebabkan perubahan iklim secara drastik, lebih lima bilion penghuni dunia ini akan mati akibat kelaparan,” katanya sepertimana laporan portal Wirtualna Polska.




Sebagai langkah keselamatan awal, Dr Zaba berkata satu-satunya cara yang boleh dilakukan adalah dengan melakukan pemindahan penduduk setempat secara besar-besaran terutamanya apabila ada tanda-tanda letusan dalam masa terdekat ini.

Untuk rekod, sejak 2.1 juta tahun dahulu kawah berapi itu pernah meletus sebanyak tiga kali dan landskapnya akan berubah setiap kali ia terjadi.

Sejak 2001, badan organisasi yang menjalankan kajian pemerhatian dikenali sebagai The Yellowstone Volcano Observatory (YVO) yang diketuai oleh Kajian Geologi AS telah melakukan pemerhatian terperinci kawah berapi itu.

Thursday, May 16, 2019

ULAMAK MELIHAT FITNAH SEBELUM IA BERLAKU

ULAMAK MELIHAT FITNAH SEBELUM IA BERLAKU
Oleh: Dr Tanaka Mustafa
1) Ulamak melihat fitnah sebelum ia berlaku. Orang awam pula melihat fitnah ketika ia berlaku.
2) Ketika terjadinya Arab Spring sehingga merebak ke Syria, ulamak Syria termasuk Ramadhan al-Bouty melarang keras umat Islam Syria terlibat Arab Spring untuk menggulingkan Bashar Assad.
3) Namun sikap agresif dan gopoh umat Islam di Syria tidak menghiraukan amaran al-Bouty, terus ghairah berusaha menjatuhkan Bashar Assad. Mata tidaknya mereka teruja melihat kejatuhan Hosni Mubarak di Mesir, dan Gaddafi di Libya.
4) Umat Syria termasuk umat Islam di negara kita mengecam al-Bouty kerana dianggap memihak kepada Bashar Assad yang zalim, kejam dan Syiahh. Sehingga ada murid al-Bouty di Malaysia sendiri membakar buku-buku dan kitab-kitab karangan al-Bouty sebagai tanda protes terhadap al-Bouty.
5) Apa yang orang tak kata kepada al-Bouty waktu itu? Macam-macam ada. Pengkhianat, ulamak cintakan dunia, ulamak kerajaan..sampai ada yang kata ulamak suuuk (ulamak jahat). Sampai begitu sekali marahnya umat Islam kepada al-Bouty.
6) Sesungguhnya al-Bouty seorang ulamak yang melihat fitnah kekacauan yang dahsyat di Syria sebelum ia berlaku. Dia sudah menegur dan melarang umat daripada melawan Bashar Assad secara kekerasan.
7) Tetapi orang-orang awam naif. Mereka tidak nampak apa yang al-Bouty nampak, sehinggalah ia benar-benar terjadi. Syria hancur akibat perang saudara - yang asalnya hanya mahu menumbangkan Bashar Assad. Kini mereka baharulah nampak fitnah kekacauan itu ketika ia berlaku. Menyesal sudah tidak berguna.
8 ) Justeru itu, apabila ulamak memberitahu kita akan sesuatu fitnah atau kekacauan yang akan berlaku, maka akurlah dengan nasihat ulamak itu. Jangan terlalu ghairah menghentam ulamak itu sekalipun dia dari puak Senju, kita pula dari puak Uchiha. Waspada itu lebih awla.
Sekian.
💚
# walau pun banyak tulisan Dr Tanaka tidak menyokong PAS namun tulisannya yang baik-baik tetap kita kongsikan!

SULTAN MAHMUD MANGKAT DIJULANG

The Patriots
SULTAN MAHMUD MANGKAT DIJULANG
Kisah Sultan Mahmud Mangkat Dijulang telah menjadi sebuah legenda yang sangat masyhur. Ini bukannya kisah dogengan, ia kisah Benar yang berlaku di Kota Tinggi, pada tengah hari Jumaat pada tahun 1699. Sultan Mahmud Syah ditkam sempai mati oleh Laksamana baginda sendiri, seorang pahlawan dari Bentan, kepulauan Jawa, yang bernama Megat Seri Rama.
Kisah Pilu ketika hujan panas hampir reda itu sangat menggemparkan, selain sultan, beberapa orang pengiring baginda turut ditikam oleh Laksamana Bentan yang hilang pertimbangan kerana terlalu marah, setelah isteri beliau yang mengandung anak sulung dihukum bunuh atas arahan sultan, hanya kerana mengidam makan seulas nagka yang diambil dari taman diraja. Selepas kemangkatan Sultan Mahmud ibni Almarhum Sultan Ibrahim Syah, Sultan Melaka terakhir ( 1488-1511) , yang mana putera kedua baginda telah ditabalkan menjadi Sultan Johor I pada tahun 1528 dengan gelaran Sultan Alauddin Riayat Syah. Selepas peristiwa tahun 1699 itu, Kesultanan Melayu Johor telah diambil oleh Keturunan Bendahara ( 1699-1816 ), kemudian beralih tangan kepada keturunan Temenggung Abd.Rahman Sultan Johor Riau ( 1816 ), dan diwarisi oleh Sultan Mahmud Iskandar, Sultan Johor yang sedang bertaktha pada hari ini.
Perihal tragedi yang menimpa Sultan Johor yang masyhur ini, telah diceritakan terus menerus, lepas satu ke satu generasi sampai ke hari ini. Selepas hampir 4 kurun peristiwa ini berlaku, kisah Sultan Mamud mangkat dijulang ini masih menjadi kisah yang sangat diingati oleh penduduk-penduduk asal Kota Tinggi, lebih-lebih lagi orang-orang keturunan Bentan sendiri masih takut terkena sumpah jika memijak tanah Kota Tinggi. Catatan sejarah Johor purbalaka ada meriwayatkan tatlaka hujan panas mulai turun mencurah-curah pada hari Jumaat dalam tahun 1699, orang-orang besar Istana telah melarang Sultan Mahmud II, daripada menunaikan sembahyang Jumaat di masjid yang terletak tidak berapa jauh daripada istana baginda. Cakap-cakap orang telah sampai kepengetahuan Datuk Bendahara Tun Abd.Majid, bahawa Laksamana Bentan( Megat Sei Rama) yang baru pulang daripada mejalankan titah sultan menghapuskan lanun-lanun di kepulauan Riau telah mengetahui perihal kematian isterinya ( Dang Anum) yang sedang sarat mengandung sulung itu. Datuk Bendahara khabarnya telah mengadap baginda dalam keadaan basah kuyup untuk menyampaikan rasa tidak sedap hatinya dan menasihatkan baginda supaya tidak keluar daripada Balai Rong seri sebagaimana kebiasaaannya. Baginda juga telah diberi ingatan oleh Bendahara supaya berhati-hati dengan menambahkan bilangan pengawal di-Raja semasa berangkat menunaikan sembahyang Jumaat.
Hujan panas masih belum reda, tatkala Sultan Mahmud Syah II berkira-kira untuk berangkat meninggalkan istana buat kali yang terakhir, seorang pengiring baginda telah datang dan menyembahkan sebilah keris untuk dipakai oleh baginda sebagai langkah berjaga-jaga. Baginda turun dari istana dan memasuki usungan yang diangkat oleh empat orang pengiring dengan dikelilingi oleh ramai pengawal istana. Di pertengahan jalan hujan mulai teduh, tepai masih renyai-renyai, awan agak mendung dan mentari beransur-ansur hilang di balik awan yang muram seolah-olah sedang beradu. Sebagaimana minggu-minggu sebelum itu baginda akan diturunkan agak jauh dari masjid tetapi pada hari Jumaat yang malang itu, pengawal-pengawal istana baginda berkeras mahukan baginda diusung hingga ke tangga masjid dan di saat-saat akhir hayat baginda pun tiba, Megat Seri Rama telah hilang siumannya, hanya menanti masa untuk menuntut hutang darah,
Tatkala sultan hampir dengan tangga masjid dan masih lagi di atas usungan, Megat Seri Rama dengan tanpa berlengah lagi menerkam dan menikam baginda tepat pada perut sultan, darah merah pekat membuak-buak membasahi pakaian baginda sultan dan menitis jatuh di atas tanah, beriringan dengan titis hujan air hujan yang membasahi bumi. Sebuah keluhan pilu kedengaran. Baginda mengerang kesakitan, bisa keris yang telah diperasap limau pantas menyelinap ke segenap urat saraf Sultan Johor yang malang itu. Megat Seri Rama bagaikan dirasuk, habis pengawal diraja ditikam, orang ramai yang datang untuk bersembahyang Jumaat pada hari itu bertempiran lari menyelamatkan diri. Di saat sakaratulmaut sudah menghampiri, Sultan Johor, Sultan Mahmud II sempat mencabut kerisnya dan melontarkan ke tanah terkena hujung ibu jari Megat Seri Rama. Demi kedaulatan raja yang tinggi, luka yang sedikit itu meninggalkkan bisa yang bukan kepalang. Laksamana Bentan sempat mengerang hanya seketika sebelum jatuh menemui ajal tidak lama kemudian. Sumpahan seorang sultan yang penuh daulat " Aku sumpah tujuh keturunan Bentan akan muntah darah kalau pijak bumi Kota Tinggi" . Baginda mangkat sebelum diturunkan di atas usungan.
Kisah sedih ini tercatat dalam Sejarah Johor oleh Tun Sri Lanang sebagai " Sultan Mahmud Mangkat Dijulang " Baginda mangkat dalam usia yang muda dan menaiki taktha pada tahun 1685. Kemangkatan baginda yang tidak meninggalkan zuriat menyebabkan pembesar Johor pada masa itu bermaufakat untuk melantik Bendahara Tun Habib Abd.Majid menjadi Sultan Johor yang baru dengan gelaran Sultan Abd.Jalil IV ( 1699-1718) dan semenjak itu berakhirlah titisan zuriat Sultan Mansur Syah, Sultan Melaka yang mengasaskan kesultanan Johor semenjak 1428.
-Hangpcdua Malaya-