Whatsap Saya

Jawatan Kosong Kerajaan & Swasta Terkini 2020

koleksi kitab

Thursday, January 21, 2016

Kesalahan sebagai Pemimpin yang harus Dihindari

Kesalahan sebagai Pemimpin yang harus Dihindari

Napoleon Hill sebagai salah satu penulis terkenal tentang Perilaku Manusia, menuliskan tentang 9 Penyebab Kesalahan menjadi Seorang Pemimpin.  Perilaku Pemimpin akan membawa Keberhasilan Jangka Panjang atau Penerimaan Singkat dari para pengikut.  Pada masa sekarang jika Anda menjadi seorang manajer puncak atau menengah, Anda dipastikan seorang Pemimpin.  Makin agresifnya dinamika hidup membuat Anda tidak dapat lagi berperan hanya sebagai seorang manajer, Anda harus mengambil peran menjadi Pemimpin.

Sebagai Pemimpin ada hal 3 pokok yang perlu Anda pahami yaitu : Konsep, Teknis dan Hubungan Kemanusiaan.  Dan paling utama Anda perlu menguasai Bagaimana melakukan Sinkronisasi dengan orang-orang sekitar (Pengikut). Beberapa hal berikut hendaknya Anda hindari dalam Kepemimpinan Anda, yakni:

1. Ketidakmampuan Mengatur Detail-detail Pekerjaan.
Untuk menjadi pemimpin yang efisien, kita membutuhkan kemampuan mengatur dan menguasai detail-detail pekerjaan. Tidak ada pemimpin sejati yang selalu “terlalu sibuk” untuk melakukan hal-hal yang diperlukan sebagi seorang pemimpin. Jika pemimpin atau pengikut terlalu sibuk untuk untuk mengubah rencana dan memberi perhatian pada hal-hal yang sifatnya darurat, maka ini adalah indikasi kurangnya efisiensi. Pemimpin yang sukses harus menguasai segala detail terkait dengan kedudukannya. Tentu saja, itu artinya kita harus memiliki kebebasan menyerahkan detail-detail pekerjaan kepada komandan yang cakap.

2. Keengganan akan Pelayanan Rendah Hati.
Ketika diperlukan, para pemimppin yang benar-benar hebat mau melakukan pekerjaan macam apapun yang biasa diperintahkannya kepada orang lain. “orang yang paling hebat diantara kalian adalah orang yang mau menjadi abdi semua orang” adalah sebuah kebenaran yang perlu diperhatikan dan dihormati semua pemimpin yang cakap.  Sebagai Pemimpin, Anda adalah Pelayan para Pengikut.

3. Harapan akan Bayaran atas Pengetahuan bukan Tindakan.
Dunia tak membayar atas apa yang kita ketahui. Dunia membayar atas apa yang kita lakukan, atau atas dorongan kita kepada orang lain agar melakukan sesuatu.  Pemimpin tidak berharap bayaran sejumlah uang untuk Keberhasilan Kepemimpinannya.

4. Takut akan Persaingan dari Pengikut.
Jika seorang pemimpin takut jikalau salah seorang pengikutnya akan mengambil alih kedudukan, maka cepat atau lambat ketakutan tersebut akan terwujud. Para pemimpin yang cakap biasanya melatih para pengganti yang mungkin akan meneruskannya, atas kemauannya sendiri. Hanya dengan cara ini para pemimpin bisa menggandakan diri mereka dan siap berada di banyak tempat, dan bisa perhatian kepada banyak hal sekaligus. Tidak bisa dipungkiri lagi, jika kita memiliki kemampuan membuat orang lain bekerja, kita akan mendapatkan bayaran lebih tinggi dari pada yang kita dapatkan jika melakukan pekerjaan sendiri. Dengan pengetahuan atas pekerjaan mereka serta daya tarik pribadinya, para pemimpin yang efisien benar-benar meningkatkan efisiensi orang lain dan mendorong mereka untuk memberikan bukti lebih banyak dan lebih baik dari pada yang bisa mereka lakukan tanpa ada dorongan sang pemimpin.

5. Kurangnya Imajinasi.
Tanpa imajinasi, para pemimpin tidak mampu menghadapi keadaan darurat dan menciptakan rencana-rencana yang bisa dipakai untuk memandu para pengikutnya secara efisien.  Pemimpin harus dapat Berpikir Kreatif dan Inovatif serta Intuitif, terlebih dengan kondisi pergerakan Pasar yang sangat dinamis.


6. Egoisme.
Para pemimpin yang mengaku berjasa paling besar dalam pekerjaan pengikutnya pasti akan dibenci. Para pemimpin yang benar-benar hebat tidak mengaku paling berjasa. Mereka puas melihat para pengikutnya mendapatkan penghargaan, karena mereka tahu bahwa kebanyakan orang akan bekerja lebih keras setelah mendapatkan pujian dan penghargaan dari pada mereka mendapatkan uang.  Anda tidak perlu mengklaim keberhasilan Tim adalah Keberhasilan Anda sebagai Pemimpin.  Semua tahu bahwa Andalah Pemimpin Kelompok tersebut.

7. Sikap Berlebihan.
Para pengikut tidak akan menghormati seorang pemimpin yang sikapnya berlebihan (Over Reacting). Terlebih lagi, berbagi bentuk sikap berlebihan bisa menghancurkan daya tahan dan vitalitas orang-orang yang mengikutinya.  Hubungan Komunikasi yang Fleksibel dengan para pengikut menjadikan Kondusivitas Kepemimpinan Anda.

8. Ketidakpastian dan Ragu-ragu.
Para pemimpin yang tidak setia kepada kelompok dan teman sejawat mereka baik yang kedudukannya di atas atau di bawah tidak akan bisa mempertahan lagi kepemimpinannya. Ketidakpastian menjadikan seseorang lebih rendah daripada debu tanah dan akan dipandang hina. Kurangnya kesetiaan adalah salah satu sebab utama kegagalan dalam berbagai segi kehidupan.  Sebagai Pemimpin Kelompok Anda wajib menunjukkan Sikap Tegas dan Setia dalam Kepemimpinan.  Setia kepada Pengikut dan setia kepada Pemimpin diatas Anda adalah bentuk Hubungan Kemanusiaan.

9. Sikap menekan “otoritas” sebagai pemimpin.
Para pemimpin yang efisien biasanya memimpin dengan memberikan semangat dan tidak mencoba menanamkan ketakutan di hati para pengikutnya. Para pemimpin yang mencoba menunjukkan “otoritas”nya kepada para pengikut termasuk ke dalam ketegori pemimpin melalui paksaan. Para pemimpin sejati tidak perlu menunjukkan fakta itu selain dengan perilaku, simpati, pengertian, keadilan, dan menunjukkan pengetahuan mereka terhadap pekerjaan.  Konseptual Berpikir bukan berarti Pemaksaan Cara Berpikir, karena setiap Pengikut Anda memiliki Cara Berbeda mengartikan Pikiran Anda.

ikhtisar.com

Gambar piagam dari Nabi Muhammad s.a.w kepada Biara St. Catherine

The Patent of Muhammad
Gambar piagam dari Nabi Muhammad s.a.w kepada Biara St. Catherine

Pada 628 M, Biara St. Catherine telah menghantar utusan mengunjungi Nabi Muhammad s.a.w di Madinah untuk meminta perlindungan. Nabi Muhammad s.a.w menerima kunjungan mereka dengan memberikan mereka piagam hak-hak yang diterjemahkan dibawah. Biara St. Catherine terletak di kaki Gunung Sinai di daerah yang kini menjadi wilayah Mesir dan merupakan biara tertua di dunia. Biara ini juga merupakan salah satu tapak warisan dunia dan memiliki koleksi ikon-ikon Kristian tertua, menjadikannya muzium yang mempunyai sejarah Kristian yang terbesar selepas Vatican terpelihara keselamatannya selama lebih dari 1,400 tahun di bawah perlindungan orang Islam.

Berikut kandungan piagam tersebut yang diberikan oleh Nabi Muhammad s.a.w kepada Biara St. Catherine:

“Ini adalah pesanan dari Muhammad bin Abdullah, sebagai perjanjian dengan mereka yang memeluk agama Kristian, samada dekat dan jauh (di mana pun mereka berada), kami bersama mereka. Bahawasanya aku, para pembantuku, dan para pengikutku mempertahankan mereka, karena orang Kristian juga rakyatku; dan demi Allah, aku akan menentang apa pun yang mengganggu mereka.

Tidak boleh ada paksaan atas mereka.

Tidak ada hakim-hakim mereka yang akan dipecat daripada pekerjaan mereka dan tidak ada juga rahib mereka yang dibuang dari tempat ibadat mereka. Tidak ada sesiapa yang akan memusnahkan rumah ibadat mereka, merosakkan, atau membawa apa-apa dari rumah ibadat mereka ke rumah-rumah orang Islam. Sesiapa yang mengingkari perintah ini walaupun satu, dia akan merosakkan perjanjian Allah dan menderhaka kepada Rasul-Nya. Sesungguhnya, mereka adalah sekutuku dan aku mempunyai piagam yang selamat terhadap apa yang mereka benci. Tidak boleh ada yang memaksa mereka pergi atau mewajibkan mereka berperang. Orang-orang Islamlah yang harus berperang untuk mereka.

Bila seorang perempuan Kristian menikahi lelaki Muslim, pernikahan itu harus dilakukan atas persetujuannya. Ia tak boleh dilarang untuk mengunjungi gereja untuk berdoa. Gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dilarang untuk memperbaiki gereja mereka dan tidak boleh pula ditolak haknya atas perjanjian ini. Tak boleh ada negara (Islam) pun yang melanggar perjanjian ini sampai hari penghabisan (kiamat).”

Diterjemahkan dari English;

"This is a message from Muhammad ibn Abdullah, as a covenant to those who adopt Christianity, near and far, we are with them. Verily I, the servants, the helpers, and my followers defend them, because Christians are my citizens; and by Allah! I hold out against anything that displeases them.

No compulsion is to be on them. Neither are their judges to be removed from their jobs nor their monks from their monasteries.
No one is to destroy a house of their religion, to damage it, or to carry anything from it to the Muslims' houses. Should anyone take any of these, he would spoil God's covenant and disobey His Prophet. Verily, they are my allies and have my secure charter against all that they hate.

No one is to force them to travel or to oblige them to fight. The Muslims are to fight for them. If a female Christian is married to a Muslim, it is not to take place without her approval. She is not to be prevented from visiting her church to pray.

Their churches are to be respected. They are neither to be prevented from repairing them nor the sacredness of their covenants. No one of the nation (Muslims) is to disobey the covenant till the Last Day (end of the world)."

English translation from 'Muslim History: 570 - 1950 C.E.' by Dr. A. Zahoor and Dr. Z. Haq, ZMD Corporation. P.O. Box 8231 - Gaithersburg, MD 20898-8231 - Copyright Akram Zahoor 2000. P. 167.

Sejarah Dokumen Perjanjian

Piagam asli ini telah diambil pada tahun 1917 oleh Sultan Selim I dari Turki dan kini berada di Muzium Topkapi di Istanbul. Akan tetapi Sultan memberikan salinan piagam tersebut kepada para biarawan, dan mengkaji isi piagam tersebut. Dari koleksi besar gulungan kuno dan moden yang diawetkan di perpustakaan biara, jelaslah bahawa Perjanjian Nabi, walaupun asli ataupun hanya salinan, jelas memberikan hak dan perlindungan untuk umat Kristian dibawah pemerintahan kerajaan Islam.

Sumber;
http://www.islamic-study.org/saint_catherine_monastery.htm
http://st-katherine.net/en/index.php?option=com_content&task=view&id=20&Itemid=65

Gila kuasa DAP menjadi-jadi !


Lu Pikir La Sendiri
Gila kuasa DAP menjadi-jadi !
Datuk Bandar Kuala Lumpur, Datuk Mohd Amin Nordin Abdul Aziz tidak bersetuju cadangan pilihanraya kerajaan tempatan bagi pemilihan Datuk Bandar Kuala Lumpur.
Kuala Lumpur adalah bandar utama Malaysia, diuruskan oleh pentadbiran Datuk Bandar yang bekerjasama secara terus dengan kerajaan pusat bagi melaksanakan dasar dan projek
di Kuala Lumpur. Jika Datuk Bandar dilantik dan dikuasai pembangkang, bayangkan bagaimana corak pentadbiran mereka yang sentiasa membangkang apa saja pembangunan yang dilakukan oleh kerajaan pusat.
Jangan terlalu obses dakwaan tidak dapat sebarang bantuan kerajaan pusat! Lim Guan Eng minta dana pun dapat.
Dapat pegang jawatan Datuk Bandar, mungkin Himpunan BERSIH akan diadakan sebagai acara bulanan. Kuasa pemberian pelbagai permit juga dimonopoli puak pembangkang!
Bijak agenda DAP bukan..
Lupikirlasendirik...

Sikap hipokrit LGE dan DAP juga terserlah dalam isu konsesi tol yang diberikan kepada CZBUCG selama 30 tahun

Baca yang ini pulak. Dan, jangan lupa untuk komen..

____________________

KES LGE LAWAN UNH MENYERLAHKAN LAGI SIKAP HIPOKRIT LGE DAN DAP

OLEH: MAZLI NOOR
Timbalan Presiden
Ikatan Ilmuwan Nasional (Ilmuwan)
20 Januari 2016

Penyelesaian luar mahkamah kes saman Ketua Menteri Pulau Pinang YAB Lim Guan Eng (LGE) terhadap Ketua Penerangan PAS YB Ustaz Nasrudin Hassan (UNH) pada Isnin 18 Januari 2016 lalu sebenarnya mendedahkan beberapa lagi fakta yang menarik bagi tatapan rakyat Malaysia. Sebagai ulangan, saman LGE itu adalah terhadap artikel FB UNH yang bertajuk “Apa beza KIDEX dan Penang Tunnel?”.

Dalam fakta kes disebut bahawa projek tersebut akan menelan belanja sebanyak RM4.6 billion untuk panjang terowong 6.3 kilometer. Ini manurut UNH terlalu mahal dengan tidak logik. Mengikut akhbar The Edge melaporkan pada 11 Januari 2016, kos sebenar projek tersebut adalah RM6.3 billion yang melibatkan pembinaan tiga jajaran lebuhraya dan juga terowong dasar laut sepanjang 7.2 kilometer. Saya tidak berhajat untuk mengulas berkenaan jumlah kos pembinaan projek tersebut. Apa yang lebih menarik bagi saya adalah fakta lain yang menyerlahkan lagi sifat hipokrit LGE dan DAP.

Menurut laporan The Edge pada 11 Januari 2016, consortium yang dikurniakan projek tersebut adalah Consortium Zenith BUCG Sdn Bhd (CZBUCG). Mengikut terma yang dilaporkan, CZBUGG akan dibayar dengan tanah yang, secara logiknya, mempunyai nilai komersial semasa atau masa hadapan yang sama atau lebih tinggi daripada RM6.3 billion. Namun untuk memaju tanah-tanah komersil tersebut CZBUGG menubuhkan dua usahasama dengan syarikat Ewein Berhad (EB). Usahasama ini adalah pada pegangan 40% oleh CZBUGG. Syarikat usahasama ini akan memajukan tanah-tanah ini dan pulangannya akan digunakan untuk membayar kontraktor utama projek iaitu China Railway Construction Corp Ltd (CRCC). Juga dilaporkan bagi memenuhi tuntutan aliran tunai, CZBUCG bercadang untuk mengurangkan lagi pegangan mereka dalam usahasama tersebut kepada 20% pada masa hadapan. (Lihat Rajah 1).

Berdasarkan analisa, didapati pengalaman EB dalam bidang hartanah adalah amat mencurigakan. Mengikut maklumat daripada laman sesawang EB, aktiviti utama EB adalah sebagai pengeluar dan pembuat fabrikasi kepingan besi, ajuan dan ajuan suntikan. Dengan tiada pengalaman langsung dalam bidang hartanah, apakah EB mampu untuk memajukan tanah-tanah komersil yang bernilai tinggi ini? Perlu diingat bahawa satu-satunya sumber dana CZBUCG untuk membayar kos pembinaan projek adalah hasil jualan komersil hartanah tersebut. Adakah EB mampu untuk memajukan hartanah tersebut ke tahap nilai sekurang-kurangnya RM6.3 billion? Sekiranya ianya gagal, bagaimanakah CZBUCG boleh melunaskan kos projek?

Bukan setakat itu, apa yang lebih membimbangkan ialah EB adalah pemegang saham majoriti didalam usahasama tersebut pada 60% dan akan bertambah kemudiannya kepada 80%. Oleh kerana pembiaya utama projek adalah syarikat usahasama CZBUCG dan EB, maka dengan kata lain keseluruhan projek ini akhirnya akan menjadi hak milik EB. Mampukah sebuah syarikat pembuatan besi dan tiada pengalaman langsung dalam pembinaan lebuhraya dan terowong dan bidang hartanah melaksanakan keseluruhan projek ini. Kalau sebelum ini DAP lantang mengkritik pihak lain kerana menganugerahkan projek-projek mega kepada syarikat-syarikat yang tiada pengalaman, mengapa sekarang LGE dan DAP dengan hipokrik mengamalkan perkara yang sama? Siapakah dibelakang CZBUCG dan EB sehingga mereka diberikan keistimewaan begini? Laporan Amresearch pada 9 September 2013 juga ada menyatakan bahawa antara syarikat lain yang turut bersama menyertai tender projek ini adalah IJM, WCT, Gamuda and MRCB. Ini merupakan nama yang sudah terkenal dalam bidang pembinaan, terutama Gamuda yang juga kontraktor yang menyiapkan terowong SMART. Mengapakah mereka ini tidak dipertimbangkan? Apakah kelebihan yang ada pada CZBUCG dan EB?

Sikap hipokrit LGE dan DAP juga terserlah dalam isu konsesi tol yang diberikan kepada CZBUCG selama 30 tahun. Mengapa LGE dan DAP bersikap “double standard” dengan menentang dengan lantang amalan tol di lebuhraya-lebuhraya Malaysia tetapi menerima kutipan tol untuk projek yang dimiliki sendiri kerajaan Pulau Pinang. Apa yang lebih pelik adalah mengikut laporan Amresearch, 9 September 2013, kos pembinaan terowong ini akan dibiayai dari dana pembangunan tanah-tanah komersil yang akan dibangunkan oleh usahasama CZBUCG dan EB. Jadi mengapa perlu ada lagi kutipan tol. Untuk apakah kutipan tol itu selain daripada hanya untuk membebankan rakyat.

Projek terowong Pulau Pinang adalah amat mencurigakan. LGE dan DAP sebenarnya berhutang banyak penjelasan-penjelasan kepada rakyat berkenaan kedudukan dan pelaksanaan projek ini. Dalam masa yang sama rakyat juga berhak dan sepatutnya menuntut lebih maklumat berkenaan projek ini yang mana perlaksanaannya dalam keadaan amat tergesa-gesa. Kebenaran harus dituntut daripada LGE dan DAP.

Wednesday, January 20, 2016

PAS berpotensi memerintah Malaysia dgn adil dan saksama

PAS berpotensi memerintah Malaysia dgn adil dan saksama:

TPPA - PAS  ke depan
Bala bencana - unit amal PAS ke depan
Konflik dunia Islam, tghh diberi kepercayaan berunding

Judi dihapuskan di kelantan dan terengganu
Toll dihapuskan di terengganu

Arwah ust azizan memberi lebih 1000 geran tanah kpd rakyat tanpa pilih bulu yg sebelum ini dijanjikan oleh UMNO
PAS kedah juga berjaya bangunkan universiti insaaniah yg kemudian dijhannamkan oleh UMNO 
Arwah ustaz juga bijak mentadbir negeri, duit cukup bayar gaji kakitangan, tapi umno terpaksa minta kat putra jaya

Pas perintah, takada rasuah ! Tapi umno bergelumang dengan rasuah !

Apa lagi hangpa mahu ?
Apa lagi ?

Who said Keling is a bad word? Why should it be?

Agree with the author. 

Who said Keling is a bad word?  Why should it be?
  
It has been in use in Tanah Melayu since time immemorial and -- admit lah people – many Malaysians still refer to Indians as Kelings in private anyway.  So no big deal.

There was a great Kalinga Kingdom near present day Tamil Nadu in ancient times.  In medieval Melaka, the Indian community was called the Orang Keling . . . and there is Tanjong Keling of course.  In Penang you have the Kapitan Keling mosque.  One of my favorite traditional kueh is called Telinga Keling.  Good stuff and goes well with my Lampung coffee.  Throughout Malaya you will find references to Ubi Keling, Pisang Kelat Keling, Jambu Keling, Kesumba Keling and even a Buah Koté Keling.  In social interactions you will come across Cerita Keling and Janji Keling and on the football field of old, dribbling the ball and going nowhere would be termed Main Keling.

So how come nowadays “Keling” cannot be used to denote Malaysians of South Indian origin?   

Actually, Keling is the proper word, a historical fact.  Indeed, the palace intrigues and political machinations of Kelings are integral components of Melakan history . . . and that is profound.  “India” and “Indian” are just meaningless colonial nomenclatures, just like Mumbai, Bengaluru and Kolkata were mispronounced as Bombay, Bangalore and Calcutta by tongue-tied Western colonialists. 

You see, the riverine system of present-day Pakistani Punjab was known as Sapta Sindhu (Sanskrit = “seven rivers”) in ancient times.  Early Persian travelers, due to the pronunciation rules of their own language, aspirated the “s” to an “h” and thus Sindhu became “Hindhu.”  “Hindustan” later denote the Sapta Sindhu land area.  The “Hindhu” connotation was never religious, and subsequently used by the invading Mughals to define the region’s indigenous people.  When the Greek army arrived in the region circa 500BC, they simply used Persia’s mispronounced “Hindhu” as the root word for their mispronounced “Indos” to signify the region.  This morphed into “Indus” per Latin spelling convention and this “Indus” later became the modern Western name of the seven-river system mentioned above.  When the Roman legions arrived, they further tweaked the Latin “Indus” with the -ia morpheme (hence “India”) to denote the land mass beyond the Indus River.   The British simply perpetuated this series of meaningless mispronunciations and merrily ruled over a subcontinent they Christened “India.”   And so we have it, folks . . . . an artificial Persian-Greek-Latin-Roman-Mongol-British concoction regurgitated from an inglorious history of conquests and subjugation by others.
    
Yes, “India” and “Indian” are just constructs of Western conquerors and colonisers, who were so dumb and irresponsible that they confusedly name peoples and places around the globe with the Indie root word.  Red Indian, West Indian, West Indies, East Indies . . . heck you even have the state of Indiana right smack in the Bible thumping American mid-west !

Jadi amacam machaa?  Lu “India” mana?  India India ka India Amerika ka India Karibia?

The truth is . . . there is no such thing as an “Indian.” 

India itself is traditionally called Bharat for thousands of years by the natives, hence the ultranationalist Bharatiya Janata party.  In the Indian Constitution, Bharat is the country’s official name, hence, per First Clause: "India, that is Bharat, shall be a union of states.”   And on the 9th of January every year, the government of India hosts the Pravasi Bharatiya Divas, a gathering of the worldwide diaspora of Bharat origin.  The timeless epic, Mahabharatta, refers to a great country or continent.  And now you know why West is Barat in the Malay compass, referring to that subcontinent beyond the western horizon. 

In old Melaka, you either have the Gujaratis or Benggalis (from the Bay of Bengal – today’s Bangla lah -- and not the Punjabis as mistaken by many) and the Kelings of the Coromandel coast in what is today’s Tamil Nadu.  No “India” or “Indian” anywhere.  So, rightfully the overwhelming majority of “Indians” in Malaysia, the 90% who hailed from former Kalinga or the Coromandel coast, should be called Kelings.  We have used this term for over 600 years and there is no reason why it should be replaced by a meaningless colonial construct that actually refers to nationals of another country thousands of miles west. 

You see, “India” is a country and “Indian” is a nationality.  There is no such thing as an “Indian” race.  There are hundreds of ethnic groups in India, from the Vedda aborigines to Tamils to Biharis to Gujaratis to Bengalis all the way to Mongoloid hilltribes of Assam who look no different from Pakchu Mat in Kemamang.  They look and talk and think differently from one another but they are “Indians” because “Indian” denotes nationality, as citizens of the Union of India.
.
Now, back in Malaysia, why should MyKad-carrying Kelings call themselves “Indians”?  It’s impossible for them to be “Indians” because they are NOT citizens of India.  If I were to take up citizenship in India, even I would be called an “Indian” – a citizen of India.  The Malaysian Kelings should call themselves Kelings as they shouldn’t be misconstrued as citizens of another country thousands of miles away.

In this regard, the fruitcakes of Hindraf are correct.  They don’t call their group “India” anything.  They call themselves the Hindu Rights Action Force.  Precisely.  Hindu is the catch-all word.  So our local Kelings can call themselves Hindus if they want, but NOT “Indians.”  The Indian government itself doesn’t refer to the country’s diaspora as “Indians.”  As mentioned, every year on the 9th of January, the government of India hosts the Pravasi Bharatiya Divas, a gathering of the worldwide diaspora of Bharat origin.  See?  Bharat.  Bharatiya.  Not “India” or “Indian.”

Now, . . . . would other “Indians” in this country adopt the author’s stance?  Accept historical fact and political plus linguistic logic and identify freely with the “Keling” race?
 
Well, they should. 

The logic is self-evident and can withstand any historical, linguistic, legal or Constitutional scrutiny.

As for the Malay majority and Malaysians of other stripes and persuasions?  I think they are a practical lot.  They understand social norms and the evolution of racial connotations over time.  While there is nothing in the Constitution or the Penal Code that prevents anyone from uttering Keling on the streets or calling people Kelings, society by and large refrain from doing so, just as American society discard Negro and Nigger from their public domain . . . although self-deprecating Blacks still taunt themselves with the word Nigga at every turn.

Well, the author has started the ball rolling.  And I think this deserves contemplation and perhaps some soul searching by Malaysians with ancestral roots in the Coromandel Coast and the great former Kalinga Kingdom.  Indeed, settling the Keling vs Indian tag will go a long way in establishing a more definitive and uniquely Malaysian identity for a people deeply rooted -- in one form or another -- in Malay history since antiquity.    

.

Tuesday, January 19, 2016

Heboh!! Ratusan Pendeta Amerika Serikat Menyangkal Iman Kristen

Heboh!! Ratusan Pendeta Amerika Serikat Menyangkal Iman Kristen
HOUSTON AS (voa-islam.com) – Gereja Amerika diguncang penyangkalan iman. Lebih dari 200 pemimpin gereja di seluruh negeri di Amerika Serikat menyatakan sudah tidak percaya kepada Tuhan, membuang iman kristiani dan tak mau lagi membaca Alkitab (Bibel). Sebagian mereka mengumumkan kepada publik, tapi sebagian memilih untuk merahasiakannya agar bisa melayani gereja, meskipun mereka tidak lagi percaya dengan apa yang mereka khotbahkan.

Mike Aus, pendeta di wilayah Houston, menjadi pendeta yang pertama kali mengumumkan keputusannya ke publik.

Pendeta di Gereja Theophilus di Katy itu mengumumkan keputusannya untuk menjadi ateis dalam suatu acara televisi Minggu pagi di MSNBC.
...Hardly anyone reads the Bible. If they did, the whole thing would be in trouble...
“Hardly anyone reads the Bible. If they did, the whole thing would be in trouble,” ujar Pendeta Aus dalam acara ‘Up with Chris Hayes,’ salah satu program MNSBC. (Hampir tidak ada orang yang membaca Alkitab. Jika mereka membacanya, maka semuanya akan berada dalam masalah).

Jemaat-jemaat di Gereja Theophilus sendiri, kepada Local 2, mengaku tidak tahu apa-apa tentang perubahan kepercayaan Aus sampai ia mengumumkannya sendiri melalui siaran televisi itu.

“Apakah Anda akan berkhotbah Minggu depan?” tanya Chris Hayes, pemandu acara tersebut.

“Saya akan kembali minggu depan dan bertemu dengan atasan Saya untuk membicarakan bagaimana selanjutnya. Kita lihat saja nanti,” tukas Aus.

...Hampir tidak ada orang yang membaca Alkitab. Jika mereka membacanya, maka semuanya akan berada dalam masalah...

Aus adalah seorang pendeta Lutheran yang telah berkhotbah di gereja selama hampir 20 tahun. Sekarang, ia justru mengatakan tidak lagi percaya kepada pesan-pesan yang telah dikhotbahkannya itu. Ia pun telah menolak permintaan wawancara dari Local 2. Menurutnya, ia telah kehilangan imannya.
“Ketika saya mulai membuang iman saya, saya pun menyadari belakangan ini bahwa tidak banyak yang harus saya tinggalkan,” tegas Aus.
Dampak pernyataan Aus sangat dirasakan oleh gerejanya yang beranggotakan sekitar 80 orang. Sepekan setelah pengumumannya, gerejanya pun dibubarkan. Jemaatnya tidak mau berbicara lagi dengan Local 2, tetapi mereka mengatakan bahwa pendeta mereka telah menghancurkan mereka.
“Ketika seorang pendeta muncul dan berkata, ‘Saya tidak lagi beriman,’ maka itu akan mengguncangkan dunia mereka. Jemaat melihat pendeta sebagai superhero spiritual,” kata Dr Keith Jenkins, seorang pendeta Methodist, mantan presiden Houston Graduate School of Theology.

Menurut Jenkins, banyak pemimpin gereja yang bertanya-tanya dan kemudian kehilangan iman mereka, tapi belum pernah ada sebelumnya yang kemudian menjadi fenomena umum.

Para pendeta, pelayan dan pemimpin gereja yang tidak lagi percaya Tuhan itu telah membentuk kelompok pertemuan rahasia melalui situs clergyproject.com. Menurut mereka, jumlah anggota yang ada sekarang telah mencapai 240 orang. Beberapa di antaranya, seperti Aus, telah terang-terangan mempublikasikan keputusan mereka. Sementara, pada umumnya memilih untuk merahasiakannya.
Mereka yang memilih untuk merahasiakan keputusan mereka, tetap aktif melayani di gereja-gereja dan lembaga-lembaga pelayanan, meskipun mereka tidak lagi percaya dengan apa yang mereka khotbahkan.

“Saya yakin, ada banyak pendeta yang aktif melayani di gereja-gereja, tetapi sedang mengalami krisis iman dan bahkan kehilangan iman mereka, tetapi mereka belum keluar karena memikirkan kehidupan mereka,” kata Jenkins.
“Mereka harus segera mengambil keputusan. Mereka tidak perlu tetap bertahan dalam gereja kemudian menggunakan posisi mereka sebagai pendeta dan mencoba mempengaruhi yang lain.” [taz/prs, c2h]