PEMIMPIN YANG MEMBAWA AZAB!
Syaikhul Islam Imam al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin
pernah memberikan nasihat tentang cara berinteraksi dengan
pemimpin yang zalim.
"Jangan bergaul dengan para pemimpin dan pembesar yang zalim,
bahkan jangan menemuinya. Berjumpa dan bergaul dengan mereka
hanya membawa petaka. Dan sekiranya kamu terpaksa bertemu,
jangan memuji-muji mereka, kerana Allah sangat murka ketika
orang fasik dan zalim dipuji. Dan barangsiapa mendoakan mereka
panjang umur, maka sesungguhnya dia suka agar Allah didurhakai
di muka bumi. "
Tidak hanya tentang pertemuan, bahkan Imam al Ghazail
mengeluarkan larangan menerima pemberian dari penguasa yang
zalim.
"Jangan menerima apa-apa pemberian dari golongan pembesar,
meski kamu tahu pemberian itu berpunca dari yang halal. Sebab,
sikap tamak mereka akan merosakkan agama. Pemberian itu akan
menimbulkan rasa simpati (jika diterima). Lalu kamu akan mula
menjaga kepentingannya mereka dan berdiam diri atas kezaliman
yang mereka lakukan. Dan itu semua telah merosakkan agama. "
Peringatan susulan juga diungkapkan. Sekecil-kecilnya
mudharat ketika seseorang menerima hadiah dari penguasa adalah,
akan muncul rasa saya terhadap mereka. "Seterusnya kami akan
mendoakan mereka kekal dan lama di atas kedudukannya.
Mengharapkan orang yang zalim lama berkuasa sama seperti
mengharapkan kezaliman berpanjangan atas hamba-hamba Allah dan
alam akan musnah binasa. "
Jika sudah demikian, Imam al Ghazali mengajukan soalan yang
luar biasa menyeramkan. "Apalagi yang lebih buruk dibanding
dengan kerosakan agama?"
Setiap penguasa, selalu mempunyai kemungkinan untuk berbuat
zalim, kecuali penguasa yang beriman kepada Allah, berteman dan
dikeliling orang-orang yang beriman pula. Mereka saling
mengingatkan dan memberi nasihat, hanya demi kebaikan, dan bukan
untuk kepentingan.
Tapi ketika seorang penguasa dikelilingi orang-orang yang
busuk dan jahat, maka kezaliman hanya tinggal menunggu masa
untuk dirasakan. Dan ketika semua itu terjadi, kerosakan akan
bermaharajalela, kehancuran di depan mata, menggelincirkan
manusia dari jalan kebenaran dan menjadikan kesesatan sebagai
panutan. Kerana itu, pemimpin yang zalim masuk menjadi salah
satu golongan yang paling dibenci oleh Allah SWT.
Rasulullah bersabda, "Ada empat golongan yang paling Allah
benci. Peniaga yang banyak bersumpah, orang fakir yang sombong,
orang tua yang berzina, dan seorang pemimpin (penguasa) yang
zalim." (HR. An-Nasai)
Bahkan, Rasulullah memberikan penegasan sanksi atas para
pemimpin yang zalim. Dalam Shahih Bukhari Muslim disebutkan,
Rasulullah bersabda, "Tidaklah ada seseorang hamba yang Allah
beri kepercayaan untuk memimpin, kemudian pada saat matinya dia
berada dalam (keadaan) melakukan penipuan terhadap rakyatnya,
kecuali akan diharamkan atasnya untuk masuk syurga."
Alangkah ruginya para pemimpin seperti ini. Dan alangkah
malangnya umat dan rakyat yang mendapat pemimpin seperti ini.
Ketika seorang pemimpin zalim berkuasa, maka yang bertanggung
jawab bukan hanya para pelaku kekuasaan; raja, maharaja,
presiden bahkan gabenor dan kepala desa. Umat dan rakyat pun
akan bertanggung jawab memikul beban penguasa yang zalim.
Ibnu Taimiyyah dalam karyanya Siyasah Syari'iyah mengutip
sebuah hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
"Barangsiapa yang mengangkat seseorang (pemimpin) untuk
mengurusi perkara kaum Muslimin sementara dia mendapati ada
seseorang yang lebih layak daripada orang yang diangkatnya, maka
dia telah berkhianat pada Allah SWT dan Rasul-Nya."
Dalam hadis lain yang diriwayatkan dari sahabat Jabir ra,
Rasulullah juga menegaskan bahawa mereka yeng memilih pemimpin
dengan pamrih duniawi maka Allah tidak akan menyapa orang-orang
seperti ini di akhirat nanti.
"Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada
hari kiamat, tidak dilihat dan tidak akan disucikan, dan bagi
mereka azab yang pedih. Mereka adalah; Orang yang mempunyai
kelebihan air di padang pasir namun tidak mau memberikannya
kepada orang yang berada di tengah perjalanan; orang yang
menawarkan barang dagangan kepada orang lain setelah Ashar, lalu
ia bersumpah dengan nama Allah bahawa ia telah membelinya sekian
dan sekian sehingga lawannya mempercayainya, padahal sebenarnya
tidaklah demikian; dan seseorang yang mengikrarkan kepatuhannya
kecuali untuk kepentingan dunia (harta), bila sang pemimpin
memberinya ia akan patuh dan bila tidak memberinya ia tidak akan
mematuhinya. "
Jauh-jauh hari, sesungguhnya Allah telah melakukan
perlindungan agar kita tidak mempunyai kecenderungan hati pada
orang-orang yang zalim. Sebab, kecenderungan itu akan
mengantarkan kita pada azab yang pedih.
"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim
yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu
tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah,
kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan." (QS Hud [11]: 113)
Sungguh, seorang pemimpin sejatinya adalah sebuah perisai
yang melindungi rakyatnya. Seperti sabda Rasulullah,
"Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat
akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia
memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta
bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia
memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya.
"(HR Muslim)
Pemimpin dan yang dipimpin adalah mata rantai yang tidak
boleh dipisahkan. Pemimpin lahir dari dan terpilih oleh
orang-orang yang akan dipimpin. Ketika seorang pemimpin
bersalah, maka bersalah pula mereka yang memilihnya. Ketika
seorang pemimpin berbuat zalim, maka mereka yang memilih juga
akan menanggung akibatnya.
Sungguh bukan pekerjaan ringan untuk menjaga dan menghalang-halangi
para pemimpin agar tidak berbuat zalim. Orang-orang yang
dipimpin harus menjaga para pemimpin dengan cara memastikan
bahawa ketua negara melakukan kewajiban-kewajiban besarnya.
Kewajiban pemimpin negara adalah menegakkan keadilan,
memberantas kezaliman, melaksanakan undang-undang syariat, dan
bahkan kewajiban personal untuk tidak melakukan maksiat.
Umar bin Khattab ra lebih tegas lagi mengatakan, tugas
seorang pemimpin adalah menjaga agama. "Pemimpin di angkat untuk
menegakkan agama Allah," kata Umar bin Khattab.
Jika kita mampu menjaga para pemimpin yang terpilih, menjadi
para pemimpin yang menegakkan agama Allah, menjaga akidah
umatnya, memberantas kezaliman dan melaksanakan syariat, sungguh
negeri ini ibarat potongan syurga di dunia. Apalagi Rasulullah
bersabda bahawa menasihati para pemimpin untuk taat pada Allah,
adalah salah satu perilaku yang mengundang ridha-Nya.
"Sesungguhnya Allah redha terhadap tiga perkara dan membenci
tiga perkara. Dia rela apabila kalian menyembah-Nya, berpegang
tegug pada tali-Nya dan menasihati para pemimpin. Dan Allah
membenci pembicaraan sia-sia, menghambur-hamburkan harta dan
banyak bertanya. "
Ada beberapa perkara yang membuat pemimpin tergelincir pada
perilaku zalim. Yang paling berbahaya adalah, ketika seorang
pemimpin menuruti hawa nafsu dan mengejar kesenangan dunia.
Kemudian, kolusi dan nepotisme yang tidak sesuai dengan
peraturan kebenaran. Para penasihat yang buruk dan teman yang
jahil, juga mampu menggelincirkan para pemimpin. Jika
orang-orang yang lemah dan kaum kuffar dijadikan sebagai
pembantu, kehancuran tinggal menunggu waktu. Rela dan mudah
terpengaruh pada tekanan antarabangsa, juga menjadi penyebab
pemimpin berlaku zalim.
Tugas umat, belum lagi selesai. Setelah terpilih, para
pemimpin harus terjaga. Jika tidak, kita juga yang akan
merasakan azab dan akibatnya. Sebab, keadilan seorang pemimpin
adalah penawar dahaga bagi umatnya dan lebih utama dari ibadah
ritual yang dilakukannya. "Keadilan seorang pemimpin walaupun
sesaat jauh lebih baik daripada tujuh puluh tahun," demikian
sabda Rasulullah. (HR Thabrani)
Tapi jika yang terjadi justru sebaliknya, maka sungguh
keadaan yang akan menimpa."Yang aku takuti pada umatku adalah
pemimpin-pemimpin yang menyesatkan," sabda Rasulullah. (HR
Dawud)
Jika pemimpin-pemimpin sesat telah memimpin, maka manusia
akan berada pada penyelasan yang tiada tara seperti yang
digambarkan Allah dalam firman-Nya. "Pada hari ketika muka
mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata:" Alangkah
baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada
Rasul. " (QS al Ahzab [33]: 66)
Dan ketika kita sampai pada tahap itu, penyesalan paling
besar pun tidak akan bermakna. Semoga kita adalah umat yang
terbaik, dengan pemimpin-pemimpin yang soleh dan muslih. Bukan
sebaliknya, umat yang dipimpin para penguasa yang zalim dan
bathil. Semoga pemimpin kita tidak seperti pepatah, tongkat yang
membawa rebah!

No comments:
Post a Comment
Tinggalkan Mesej