Ads2

Products – Dropship & Dropshop

Wednesday, February 28, 2018

Saturday, February 10, 2018

SURAT TERBUKA BUAT PIMPINAN AMANAH BERKENAAN PENGHINAAN TERHADAP AL FADHIL USTAZ AHMAD


Lebai Habib Al Intani
February 3 at 2:30pm ·

SURAT TERBUKA BUAT PIMPINAN AMANAH BERKENAAN PENGHINAAN TERHADAP AL FADHIL USTAZ AHMAD AWANG.
Saya mewakili akar umbi parti di Sungai Buloh melahirkan rasa kesal dengan sikap berdiam diri pimpinan tertinggi parti sehingga kini ketika mana Penasihat Umum parti Al Fadhil Ustaz Ahmad Awang dimaki hamun dan dihina oleh rakan-rakan bukan islam lantaran pendirian dan kenyataan al fadhil ustaz berkenaan isu pembatalan status agama islam 3 orang anak kepada Puan Indhira Gandi. Sehingga ke saat surat ini ditulis tidak ada sebarang kenyataan rasmi pun dikeluarkan oleh mana-mana pimpinan parti bagi membela al fadhil penasihat umum parti.

Kami selaku ahli akar umbi memohon agar pimpinan tertinggi parti mengambil langkah tegas terhadap isu menghina penasihat umum parti kita. Ini kerana apa yang diutarakan oleh al fadhil ustaz itu tidak bercanggah dengan islam. Ya mungkin ianya bercanggah sedikit dengan strategi politik dan juga pendirian pihak yang menaungi dan mendanai parti kita selama ini. Namun apakah pimpinan tertinggi lebih mementingkan strategi politik berbanding akidah umat islam? Terlalu kemarukkah kita mengharapkan undi dari bukan islam sehinggakan kita sanggup menjual akidah anak cucu saudara semuslim kita? Kita pernah melaungkan yang parti kita akan menggantikan PAS sebagai parti islam yang utama dan membela umat islam di negara ini. Namun setelah PAS dilumpuhkan di seluruh negara mengapa kita seolah-olah melupakan apa yang kita laungkan hinggakan ada pula pimpinan parti yg seakan-akan bersetuju dengan keputusan mahkamah itu. Kini penasihat umum kita pula dihina dan dimaki semata-mata mempertahankan akidah saudara sesama muslim. Seharusnya kita iaitu parti yang lebih baik dari PAS bersatu mempertahankan beliau dan bukannya berdiam diri.

Jika sekiranya pimpinan tertinggi parti terus jugs berdiam diri tanpa memberikan pembelaan yang sewajarnya kepada al fadhil penasihat umum maka kami ahli akar umbi dari sungai buloh yang berjumlah 327,227 orang tidak teragak-agak memboikot apa jua aktiviti parti ditempat kami dan juga akan menjalankan kempen #undirosak bagi parlimen subang dan DUN dibawahnya.
Justeru, kami berharap pimpinan tertinggi mengambil maklum saranan kami ini. Sekian, terima kasih.
Dr. Ustaz Mohd Habib Al Intani

Yang Dipertua
Parti Amanah Negara Tanah Air Tercinta
Sungai Buloh
3/2/2018 | 2.30 petang

Selain ikhtiar dan gerakan bersama yang perlu dilakukan umat Islam agar terhindar dari pemimpin kafir dan zalim


AyobHussin Pulau Keramat
Just now ·

Selain ikhtiar dan gerakan bersama, yang perlu dilakukan umat Islam agar terhindar dari pemimpin kafir dan zalim adalah dengan memperbanyak doa. Di antaranya adalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini.

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ،
وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا،
وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا
فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

“Ya Allah, karuniakanlah kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari bermaksiat kepada-Mu, dan (karuniakanlah kami) ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu, serta (karuniakanlah kami) keyakinan hati yang dapat meringankan kami dari berbagai cobaan dunia. Jadikankan kami bisa menikmati dan memanfaatkan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama hidup. Dan jadikan semua itu sebagai pewaris bagi kami (tetap ada pada kami sampai kematian). Jadikanlah kemarahan dan balas dendam kami hanya kepada orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami. (Ya Allah) Janganlah Engkau jadikan musibah kami adalah yang terjadi pada agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami.” (HR. Tirmizi dan Nasa’i; hasan)
Diterangkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah tidak pernah bangkit dari majelisnya sehingga beliau mendoakan para sahabatnya di majelis tersebut dengan doa ini.

Bolehkah Kita Mencintai Orang Kafir

Bolehkah Kita Mencintai Orang Kafir ?
Diposting oleh Abu Al-Jauzaa' : di 01.42
Label: 'Aqidah


Tanya : Apakah ayat ”Allah tiada melarangmu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu” [QS. Al-Mumtahanah : 8]; bisa dijadikan alasan atau dalil bahwa kita diperbolehkan mencintai orang kafir ?
Jawab : Allah ta’ala berfirman :

لاّ يَنْهَاكُمُ اللّهُ عَنِ الّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرّوهُمْ وَتُقْسِطُوَاْ إِلَيْهِمْ إِنّ اللّهَ يُحِبّ الْمُقْسِطِينَ

”Allah tiada melarangmu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” [QS. Al-Mumtahanah : 8].

Ayat di atas tidak mengandung pengertian kecintaan sama sekali kepada salah seorang kafir sebagaimana dikatakan oleh sebagian orang. Akan tetapi ayat tersebut hanyalah merupakan rukhshash (keringanan) dari Allah dalam hal hubungan dan muamalah dengan orang-orang kafir secara baik dan penuh kebajikan, sebagai balasan atas kebaikan yang telah mereka lakukan kepada kita.
Al-Qurthubiy rahimahullah berkata :

هذه الآية رخصة من الله تعالى في صلة الذين لم يعادوا المؤمنين ولم يقاتلوهم. قال ابن زيد: كان هذا في أول الإسلام عند الموادعة وترك الأمر بالقتال ثم نسخ. قال قتادة: نسختها {فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ} وقيل: كان هذا الحكم لعلة وهو الصلح، فلما زال الصلح بفتح مكة نسخ الحكم وبقي الرسم يتلى

”Ayat ini merupakan rukhshah (keringanan) dari Allah ta’ala dalam hal menjalin hubungan dengan orang-orang (kafir) yang tidak memusuhi dan memerangi orang-orang mukmin. Ibnu Zaid berkata : ’Sikap semacam ini terjadi di permulaan Islam saat perdamaian dan gencatan senjata, lalu dihapus’. Qatadah berkata : ’Ayat tersebut dihapus (mansukh) oleh ayat : ’Maka bunuhlah orang musyrik itu dimana saja kamu menjumpainya’ (QS. At-Taubah : 5)’. Dan dikatakan : ’Hukum (dalam ayat) ini berlaku karena ada sebab, yaitu perdamaian. Ketika hilang hukum perdamaian dengan adanya Fathu Makkah, maka terhapuslah hukumnya, dan tersisa bacaannya” [Al-Jaami’ li-Ahkaamil-Qur’aan, 18/59].

Dan yang benar bahwa hukum yang terkandung dalam ayat ini tetap berlaku (tidak terhapus secara mutlak)[1].
Berbuat baik kepada orang kafir dalam hal muamalah keduniaan tidaklah mengharuskan untuk menanamkan kecintaan kepada mereka dalam hati. Hal itu dikarenakan kecintaan mempunyai konsekuensi pembolehan untuk menjadikan mereka teman dekat, pemimpin, penolong, mempercayakan amanah kepada mereka, dan yang lainnya sebagaimana dijelaskan oleh para ulama. Perbuatan tersebut terlarang secara asal dalam Islam, berdasarkan firman Allah ta’ala :

لاّ يَتّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاّ أَن تَتّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً

”Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka”. [QS. Aali ’Imraan : 28]
الّذِينَ يَتّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزّةَ فَإِنّ العِزّةَ للّهِ جَمِيعاً
”(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”. [QS. An-Nisaa’ : 139]

Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

ثُمَّ اَلْبِرُّ وَالصِّلَة وَالْإِحْسَان لَا يَسْتَلْزِمُ التَّحَابُبَ وَالتَّوَادُدَ اَلْمَنْهِيَّ عَنْهُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى : (لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاَللَّهِ وَالْيَوْم اَلْآخِر يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اَللَّه وَرَسُولَهُ) . اَلْآيَة فَإِنَّهَا عَامَّةٌ فِي حَقِّ مَنْ قَاتَلَ وَمَنْ لَمْ يُقَاتِلْ وَاَللَّه أَعْلَمُ.

”Kemudian, kebajikan, hubungan, dan kebaikan (yang kita lakukan kepada orang kafir) tidaklah mengharuskan adanya kecintaan dan kasih sayang yang dilarang oleh Allah untuk dilakukan sebagaimana terdapat dalam firman Allah ta’ala : ‘Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya’ (QS. Al-Mujaadilah : 22). Ayat ini bersifat umum, berlaku bagi setiap orang kafir yang memerangi maupun tidak memerangi. Wallaahu a’lam” [Fathul-Baariy, 5/233].

Asy-Syaikh ’Abdul-’Aziz bin Baaz rahimahullah berkata :

معنى الآية المذكورة عند أهل العلم: الرخصة في الإحسان إلى الكفار , والصدقة عليهم إذا كانوا مسالمين لنا, بموجب عهد أو أمان أو ذمة, وقد صح في السنة ما يدل على ذلك, كما ثبت في الصحيح أن أم أسماء بنت أبي بكر قدمت عليها في المدينة في عهد النبي صلى الله عليه وسلم وهي مشركة تريد الدنيا, فأمر النبي صلى الله عليه وسلم أسماء أن تصل أمها, وذلك في مدة الهدنة التي وقعت بين النبي صلى الله عليه وسلم وبين أهل مكة , وصح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه أعطى عمر جبة من حرير, فأهداها إلى أخ له بمكة مشرك, فهذا وأشباهه من الإحسان الذي قد يكون سببا في الدخول في الإسلام, والرغبة فيه, وإيثاره على ما سواه, وفي ذلك صلة للرحم, وجود على المحتاجين, وذلك ينفع المسلمين ولا يضرهم, وليس من موالاة الكفار في شيء كما لا يخفى على ذوي الألباب والأبصار.

”Makna ayat tersebut[2] menurut para ulama adalah : keringanan dalam hal berbuat baik kepada orang-orang kafir dan memberi sedekah kepada mereka jika mereka menyerah kepada kita dengan menggunakan perjanjian atau jaminan atau dzimmah (suaka politik), dan ada shahih dalam sunnah yang menunjukkan hal tersebut. Sebagaimana yang ditetapkan dalam kitab Ash-Shahiih bahwa ibu Asmaa’ bintu Abi Bakr pernah mendatangi Asmaa’ di Madinah pada masa Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam, padahal ibunya itu seorang musyrik yang menginginkan dunia. Maka Nabi memerintahkan Asmaa’ untuk menjalin hubungan dengannya[3], dan itu berlangsung selama masa perdamaian yang terjadi antara Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam dengan penduduk Makkah. Dan telah shahih dari Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam bahwa beliau pernah memberi jubah sutera kepada ’Umar, lalu ’Umar menghadiahkannya kepada saudaranya di Makkah yang masih musyrik.[4] Hal itu dan juga contoh-contoh kebaikan lain yang serupa merupakan salah satu bentuk yang tidak jarang menjadi sebab masuknya orang ke dalam agama Islam atau mencitrakan baik pada Islam serta pengutamaan Islam atas yang lainnya. Dan hubungan seperti itu hanya sekedar hubungan nasab yang memberikan manfaat kepada kaum muslimin dan tidak memberikan mudlarat kepada mereka. Dan bukan pula termasuk sama sekali dalam pengertian wala’ (loyalitas) terhadap orang-orang kafir, sebagaimana hal itu sudah tidak asing lagi bagi orang-orang yang berakal” [Majmuu Fataawaa wa Maqaalaat Ibni Baaz, 1/302-303].

Itulah keluasan dan keadilan Islam. Keluasan dalam arti bahwa Islam tidak melarang kaum muslimin untuk bermuamalah dengan kaum kuffar yang tidak memerangi kaum muslimin; baik dalam hubungan silaturahim dengan anggota keluarga, jual-beli, dan yang lainnya. Keadilan dalam arti bahwa Islam melarang kaum muslimin untuk berbuat segala macam kedhaliman kepada mereka yang tidak berbuat dhalim kepada kita, dan membalas segala kebaikan yang telah mereka lakukan pada kita (dalam batas-batas syari’at). Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam telah bersabda :

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا
وَلُوا

”Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil berada di sisi Allah di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, di sebelah kanan Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla, dan kedua tangan Allah adalah kanan. Yaitu, orang-orang yang berlaku adil dalam hukum, adil dalam keluarga dan adil dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepada mereka” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1827].
Wallaahu a’lam.
Semoga ada manfaatnya.

[Abul-Jauzaa’ - perumahan ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor - 16071434/26052013 – 01:39].


[1] Yaitu bolehnya bermuamalah dan berbuat baik kepada orang-orang kafir yang tidak memusuhi kaum muslimin atau terikat perjanjian dengan kaum muslimin.

[2] Yaitu firman Allah ta’ala :
لاّ يَنْهَاكُمُ اللّهُ عَنِ الّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرّوهُمْ وَتُقْسِطُوَاْ إِلَيْهِمْ إِنّ اللّهَ يُحِبّ الْمُقْسِطِينَ
”Allah tiada melarangmu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” [QS. Al-Mumtahanah : 8].

[3] Hadits yang dimaksud adalah :

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَتْ: " قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ: وَهِيَ رَاغِبَةٌ، أَفَأَصِلُ أُمِّي؟ قَالَ: نَعَمْ، صِلِي أُمَّكِ "

Dari Asmaa’ bintu Abi Bakr radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata : Ibuku pernah datang menemuiku yang waktu itu ia masih dalam keadaan musyrik (kafir) di jaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Lalu aku pun meminta fatwa kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata : “Ibuku (datang menemuiku) dalam keadaan berharap kebaikanku (kepadanya). Apakah aku boleh menyambung hubungan dengan ibuku?”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Iya, sambunglah hubungan dengan ibumu” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 2620].

[4] Hadits yang dimaksud adalah :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَأَى حُلَّةً سِيَرَاءَ عِنْدَ بَابِ الْمَسْجِدِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوِ اشْتَرَيْتَ هَذِهِ فَلَبِسْتَهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلِلْوَفْدِ إِذَا قَدِمُوا عَلَيْكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّمَا يَلْبَسُ هَذِهِ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ، ثُمَّ جَاءَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا حُلَلٌ فَأَعْطَى عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْهَا حُلَّةً، فَقَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَسَوْتَنِيهَا وَقَدْ قُلْتَ فِي حُلَّةِ عُطَارِدٍ مَا قُلْتَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي لَمْ أَكْسُكَهَا لِتَلْبَسَهَا فَكَسَاهَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَخًا لَهُ بِمَكَّةَ مُشْرِكًا "

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar : Bahwasannya ‘Umar bin All-Khaththab melihat sebuah pakaian bergaris (yang dijual) di dekat pintu masjid. Ia berkata : “Wahai Rasululah, jika engkau membeli baju ini lalu engkau pakai di hari Jum’at dan untuk menerima utusan jika mereka datang menemuimu”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Orang yang mengenakan pakaian ini hanyalah orang yang tidak mendapatkan bagiannya di akhirat”. Kemudian (setelah beberapa saat), Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam diberi pakaian yang sama dan memberikannya kepada ‘Umar bin Al-Khaththab. Lalu ‘Umar berkata : “Wahai Rasulullah, apakah engkau menyuruhku untuk memakainya, padahal engkau telah mengatakan dengan apa yang dulu pernah engkau katakan kepadaku”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Aku memberimu bukanlah dengan tujuan agar engkau memakainya”. Maka ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu (menerimanya dan) memberikannya kepada salah seorang saudaranya yang masih musyrik di Mekkah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 886].

Tegas Terhadap Orang Kafir

Sikap tegas yang dimaksud di sini adalah tegas memegang prinsip di dalam masalah aqidah atau keimanan saat berhadapan dengan orang-orang kafir. Sesungguhnya bukan pada orang kafirnya, namun bentuk kekafiran itulah yang menjadi alasan sikap tegas itu perlu ditegakkan. Ini dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat.

Selama orang-orang kafir itu tidak memerangi kaum muslimin, mereka harus dilindungi. Namun sebaliknya, apabila mereka memeranginya atau semakin menjadi dalam kekafirannya, umat Islam harus bersikap tegas sebagaimana yang ditunjukkan Rasulullah Saw dan para sahabatnya kepada bangsa Yahudi yang memerangi kaum muslimin.

Sikap keras ini dimaksudkan sebagai alat yang digunakan untuk menghadapi para penguasa lalim, orang-orang yang sombong, munafik, dan musuh-musuh agama. Kita tidak dituntut untuk berlaku lembut bagi para penguasa lalim dan orang-orang kafir yang memusuhi umat Islam. Allah SWT telah menegaskannya dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 73, “Wahai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.“

Sikap tegas dan keras bukan berarti menganiaya mereka, dan juga bukan hanya terbatas dalam bentuk perang. Keras dan tegas juga dapat tercermin dalam sikap tidak berkompromi bila mengakibatkan terabaikannya prinsip ajaran agama. Para penguasa yang sengaja merusak dan menodai Islam melalui kebijakan yang dibuatnya tidak boleh didukung. Bahkan mereka harus diperingatkan dan ditegur.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu berkawan dengan orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.“ (Al-Mumthahanah [60] : 8-9).

Di antara pilar utama dien ini, asas dan kerangkanya yang agung adalah kewajiban saling berkasih sayang dan saling perhatian terhadap sesama muslim. Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitakan tentang sifat kaum mukminin,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain." (QS. Al-Taubah: 71)

Saat Allah 'Azza wa Jalla memuji umat terbaik sesudah para nabi, yakni para sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, Dia menyebutkan sifat dan karakteristik mereka yang istimewa, yaitu saling berkasih sayang antara sesama mereka. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, . . ." (QS. Al-Fath: 29)

Catatan penting yang harus diperhatikan dalam ayat di atas, Allah mendahulukan sifat saling berkasih sayang antar sesama mereka daripada ibadah, tahajjud, dan mencari ridha Allah. Bahkan Allah 'Azza wa Jalla dalam ayat lain menerangkan, pondasi hubungan seorang muslim dengan saudara muslimnya yang lain adalah hubungan suci dan mulia yang tidak didapatkan dalam hubungan manusia yang lain. Allah Ta'ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ

"Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela." (QS. Al-Maidah: 54)

Ciri utama kaum yang dicintai oleh Allah dalam ayat di atas adalah, "yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela".

Ibnu Katsir berkata dalam menafsirkan ayat di atas, "Inilah sifat orang-orang mukmin yang sempurna (imannya), satu dari mereka berlemah lembut kepada saudaranya dan pemimpinnya, bersikap keras terhadap musuhnya.

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka." (QS. Al-Fath: 29)

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam disifati dengan al-Dhahuk al-Qital, maknanya beliau tertawa kepada kawan-kawannya dan memerangi terhadap para musuhnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan, hubungan seorang muslim dengan muslim lainnya adalah persaudaraan karena iman. Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara." (QS. Al-Hujurat: 10)

Nikmat teragung yang Allah berikan kepada generasi terbaik, yakni generasi sahabat adalah nikmat ukhuwah imaniyah (persaudaraan seiman), "Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara." (QS. Ali Imran: 103)

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘Alaih dari al-Nu’man bin Basyir)

Dari Abu Musa radliyallaahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Orang mukmin dengan mukmin lainnya laksana satu bangunan, satu dengan yang lainnya saling menguatkan.” Lalu beliau shallallaahu 'alaihi wasallam lalu beliau menautkan jari-jemarinya. (Muttafaq ‘alaih)

Oleh sebab itu, syariat Islam mengharamkan segala tindakan yang berseberangan dengan persaudaraan dan kasih sayang antar sesama muslim ini dan juga setiap tindakan yang bisa merusak persatuan umat ini. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah mengumumkan manhaj ini saat haji akbar dipenghujung hayatnya.

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ

"Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, dan kehormatan-kehormatan kalian adalah haram atas sesama kalian." (Muttafaqun’alaih)

Keharaman tersebut berdasarkan nash Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam secara jelas yang tak boleh dirubah, ditakwilkan, dan diselewengkan. Siapa yang meyakini halalnya darah kaum muslimin daqn merusak kehormatan mereka, maka berarti dia telah mengharamkan sesuatu yang sudah sangat maklum dari urusan dien ini tentang keharamannya. Orang tersebut terkategori sebagai orang yang mendustakan al-Kitab dan sunnah mutawatir.

http://abul-jauzaa.blogspot.my/2013/05/bolehkah-kita-mencintai-orang-kafir.html

Friday, February 9, 2018

PERBEZAAN ANTARA SISTEM SYURA DENGAN SISTEM DEMOKRASI


AyobHussin Pulau Keramat
2 hrs ·

PERBEZAAN ANTARA SISTEM SYURA DENGAN SISTEM DEMOKRASI

Dari segi definisi :

Apabila dibincangkan mengenai demokrasi satu perkara yang terlintas di hati kita adalah kebebasan. Ini adalah kerana sesebuah negara yang mengamalkan sistem yang memberi kebebasan kepada rakyatnya dalam serba-serbi walaupun pada hakikatnya kebebasan itu masih boleh dipertikaikan. Namun apabila kita merujuk kepada istilah sebenar, demokrasi adalah bermakna pemerintahan rakyat.

Demokrasi itu berasal daripada perkataan Greek iaitu demos dan cratos yang bermaksud kuasa rakyat. Demokrasi bererti manusialah yang menggubal undang-undang atau manusialah yang menjadi legislator. Idea demokrasi ini dipelopori oleh para pemikir Greek yang ingin mencari penyelesaian bagi urusan kehidupan seharian mereka. Ia kemudiannya dibangkitkan semula oleh para pemikir Eropah ketika berlakunya konflik antara rakyar dan pemerintah. Konflik ini akhirnya mencetuskan revolusi dan antara revolusi yang terkemuka ialah Revolusi Perancis yang mana rakyat bangkit menentang pemerintah.

Walaupun sistem demokrasi pada zaman Greek adalah terhad kepada kaum lelaki sahaja, namun konotasi demokrasi modon lazimnya merujuk kepada semua penduduk di sesebuah negara. Ini menunjukkan bahawa demokrasi mementingkan kedaulatan rakyat. Dalam sistem ini kuasa mutlak membuat undang-undang dalam menentukan nilai-nilai dan norma-norma amalan terletak di tangan rakyat. Dengan erti kata lain rakyat berhak menetukan segalanya. Undang-undang yang baik boleh dimansuhkan dan undang-undang yang tidak baik boleh diwujudkan jika ada sokongan daripada rakyat.

Sehubungan itu berbeza dengan Islam, undang-undang ataupun syariat adalah telah ditetapkan oleh Allah s.w.t yang mencakupi segala kehidupan manusia tidak kira dari aspek politik, ekonomi, mahupun sosial atau muamalat. Oleh itu sistem syura adalah merupakan suatu sistem pemerintahan yang berlandaskan syariat yang telah digariskan oleh Allah s.w.t dalam al-Quran. Sistem syura ini adalah merupakan suatu sistem yang dicernakan sejak zaman Rasulullah s.a.w untuk melaksanakan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah s.w.t dengan cara bermusyawwarah.

Definisi syura adalah kata nama daripada perkataan “Al-Musyawwaratun” atau “Watasyawwarun” bererti mengutarakan pendapat (Dr. Lukman Thaib, 1995). Definisi syura ini jelas menunjukkan bahawa pendapat adalah diutamakan di dalam sesebuah perkara. Melalui prinsip ini peranan ummah atau rakyat Islam adalah dipentingkan di dalam perlaksanaan dan pembuatan sesuatu dasar yang berlandaskan al-Quran.
Sebaliknya Islam sebagai satu agama yang mempunyai prinsip keimanan yang tinggi kepada Tuhan, mengasaskan sesebuah negara itu berdasarkan kekuasaan Allah dan manusia pula ditugaskan sebagai khalifah. Amalan-amalan di dalam demokrasi Islam adalah merujuk kepada Al-Quran dan Sunnah. Bagi demokrasi liberal menurut setengah-setengah sarjana menganggap demokrasi sebagai asas atau dasar manakala sebahagian yang lain pula mendefinisikannya sebagai bentuk atau kaedah. Namun begitu kebanyakan sarjana bersependapat bahawa demokrasi ialah sistem yang berasaskan pihak berasingan yang majoriti, pentadbir menghormati hak minoriti (Dr. Lukman Thaib 1995:8).

PERBEZAAN ANTARA SISTEM SYURA DENGAN SISTEM DEMOKRASI
Dari segi pemilihan khalifah/pemimpin :

Perbezaan dari segi pemilihan pemimpin adalah perbezaan yang paling ketara antara sistem syura dengan sistem demokrasi. Dalam sistem syura pemilihan khalifah atau seseorang yang bakal memimpin negara adalah berdasarkan apa yang telah disarankan oleh Allah S.W.T dalam al-Quran.
Menurut apa terkandung dalam al-Quran seseorang pemimpin itu haruslah mempunyai ciri-ciri atau pun kriteria-kriteria tertentu seperti seorang yang tinggi keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah S.W.T, mempunyai ilmu pengetahuan yang luas terutamanya dalam konteks politik atau pemerintahan negara serta dalam konteks ekonomi dan sosial.

Di samping itu juga, seseorang khalifah itu haruslah mempunyai kesihatan fizikal dan mental yang baik, serta mempunyai kemahiran dalam bidang pertahanan negara iaitu kemahiran dalam ilmu peperangan.
Dalam konteks yang berlainan, pemimpin yang dilantik mengikut sistem syura adalah berasaskan kebenaran dan menjauhi sebarang bentuk kebatilan yakni pemimpin yang mempunyai sahsiah dan keperibadian yang baik serta bukan dari kalangan orang yang fasik mahupun munafik.
Ini selaras dengan apa yang disarankan dalam al-Quran yang sering menyuruh umat Islam supaya mengikuti kebenaran dan menjaga kebaikan masyarakat manusia dengan tidak mengambil kira terhadap suara dan kehendak golongan majoriti sebagai ukuran yang boleh diterima terutamanya dari segi pemilihan pemimpin. Firman Allah S.W.T dalam Surah Yunus ayat 32 yang bermaksud : “Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.”

Dalam ayat yang sama Allah S.W.T berfirman:“Maka apakah orang-orang yang menunjuki kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk?”
Ini jelas berlainan sama sekali dengan sistem demokrasi yang menjadikan suara majoriti dalam pemilihan pemimpin sebagai asas tanpa mengira sahsiah, akhlak, serta keperibadian pemimpin itu sendiri. Asalkan seseorang itu dicalonkan untuk menjadi pemimpin dan mendapat sokongan majoriti daripada rakyat maka terlantiklah seorang pemimpin yang bukan hanya berasaskan prinsip kebenaran, malah berkemungkinan jelas mentampakkan ia berasaskan kebatilan.

Contohnya seseorang pemimpin itu dilantik adalah bukan kerana kelayakannya dari segi kepemimpinan tetapi berdasarkan pemilikan hartanya yang banyak serta pengaruhnya dalam bidang-bidang tertentu terutamanya pengaruhnya dalam bidang ekonomi membolehkannya dicalonkan dalam pilihanraya. Dengan sogokan yang diberikan kepada rakyat membuatkannya dilantik menjadi pemimpin. Ini jelas menunjukkan kebatilan yang nyata dari segi pemilihan pemimpin dalam sistem demokrasi.
Walaupun tidak dinafikan syarat-syarat yang diperlukan dalam sistem demokrasi untuk seseorang itu boleh dicalonkan untuk bertanding dalam pilihanraya seperti mempunyai latar belakang yang baik dari segi akademik dan peribadi, bukan seorang yang telah disenarai hitamkan dan tidak pernah terlibat dalam sebarang bentuk jenayah atau pernah dipenjarakan namun ia tidak menunjukkan pemilihan pemimpin yang berasaskan kebenaran yang disarankan dalam al-Quran yang menekankan ciri keimanan kepada Tuhan yang menjadi tonggak dan tunjang kepada kepimpinan yang adil, bijaksana dan seumpamanya.
Dalam sistem syura, sebelum seseorang itu dilantik menjadi khalifah, calon khalifah itu sendiri dinilai dalam permesyuaratan ahli-ahli majlis syura. Seterusnya ia dinilai berdasarkan persetujuan seluruh rakyat dan rakyat bebas untuk menerima atau menolak seseorang calon khalifah tersebut. Hak kebebasan rakyat dapat dilihat dengan mengkaji terus ucapan khalifah Abu Bakar as-Siddiq seperti berikut :"Wahai Manusia, sesungguhnya aku telah dilantik ke atas kamu dan bukanlah aku orang yang paling baik di antara kamu. Kalau aku lemah kamu betulkanlah aku dan kalau aku berbuat baik, kamu tolonglah aku, benar itu amanah dan dusta itu khianat. Yang lemah di kalangan kamu adalah kuat di sisiku, sehingga aku mengambil hak daripadanya insya`Allah ...."

Daripada ucapan Khalifah Abu bakar ini terdapat beberapa perkara berkaitan kebebasan politik iaitu perkataan yang menyebut "saya telah dilantik ke atas kamu." Ini menunjukkan hak umat untuk memilih ketua negara. Manakala kata-kata “Bukankah aku orang paling baik di kalangan kamu." Ini menunjukkan ketua negara adalah juga daripada rakyat negara tersebut.

Selain itu, kata-kata seperti "Jika saya lemah kamu betulkanlah saya, jika saya berbuat baik kamu bantulah saya." Ucapan ini pula menunjukkan hak rakyat yang dianggap sebagai pemerhati bagi sesebuah pemerintahan. "Taatilah aku selagi aku taat kepada Allah, apabila aku durhaka kepada Allah dan Rasulnya kamu tidak wajib taat lagi kepada ku." Kenyataan ini pula menunjukkan, bahawa walaupun seseorang pemerintah itu ada mengikut sistem-sistem dalam sesebuah negara namun apabila beliau tidak lagi mengikut lunas-lunas agama Islam maka rakyat tidak perlu patuh kepadanya.Berbeza sama sekali dalam sistem demokrasi apabila seseorang itu telah dilantik menjadi pemimpin, ia perlu patuh dan taat dalam segenap segi walaupun dalam perkara-perkara kemungkaran dan kemaksiatan. Dalam sistem demokrasi, seseorang pemimpin itu hanya boleh digulingkan dalam pilihanraya dan selagi ia memegang jawatannya, rakyat perlu akur dengan arahan yang dikeluarkan dan hanya boleh mempertikaikannya sekiranya ada sokongan majoriti.

PERBEZAAN ANTARA SISTEM SYURA DENGAN SISTEM DEMOKRASI
Dari segi bidang kuasa:

Dalam sistem Syura, bidang kuasa tertakluk kepada institusi kekhalifahan yakni kuasa seseorang khalifah terhad kepada peruntukkan kuasa yang telah disyariatkan dalam al-Quran. Maknanya seseorang khalifah itu perlu amanah dalam kepimpinannya dan haram baginya untuk pecah amanah. Seseorang khalifah dalam sistem syura perlu mempunyai ketegasan yang tinggi dalam soal mempertahankan syariat iaitu memperjuangkan kebenaran dan menghapuskan kebatilan.

Dalam sistem demokrasi pula, seseorang pemimpin itu mempunyai bidang kuasa yang luas termasuklah dalam perkara-perkara yang diharamkan dari segi syariat asalkan sesuatu perkara itu dipersetujui oleh majoriti rakyat. Sesuatu perkara yang diharamkan oleh syariat boleh menjadi halal dengan kuasa seseorang pemimpin itu asalkan difikirkan perlu dan mendapat sokongan majoriti rakyat.Dengan kata lain, bidang kuasa yang digunakan adalah berpandukan akal fikiran manusia ataupun mengikut logikal akal manusia semata-mata dan bukan berpaksikan Al-Quran dan As-Sunnah.

Justeru, dalam sistem syura seseorang khalifah itu juga menggunakan kuasanya berdasarkan garis panduan yang telah ditetapkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Sebagai contoh seseorang khalifah adalah haram baginya menerima atau memberi rasuah kerana rasuah dikira sebagai pecah amanah dari segi pemerintahannya. Berbeza sama sekali dengan sistem demokrasi di mana pemimpin- pemimpin yang berfahaman demokrasi menggunakan kuasa mereka berdasarkan perlembagaan negara yang di gubal yang mana perlembagaan yang digubal itu bukan menjadikan asas Al-Quran dan As-Sunnah sebagai rujukan utama dalam pembentukkan perlembagaan negara tersebut.

Sehubungan itu, dalam sistem syura khalifah-khalifah diwajibkan menjalankan pemerintahan atau menggunakan kuasa yang di amanahkan berasaskan prinsip kebenaran dan keadilan. Dalam sistem demokrasi pula, pemimpin-pemimpin menggunakan kuasanya adalah untuk kepentingan diri dan rakyat biarpun kuasa yang di gunakan adalah menjurus ke arah kebatilan, kemaksiatan ataupun kemungkaran. Contohnya, pemberian lesen kepada individu-individu tertentu dalam kes penjualan arak secara berleluasa di kawasan yang mana kebanyakan penduduknya adalah orang islam.

Dari segi bidang kuasa kehakiman pula, jelas menunjukkan perbezaan yang amat ketara antara sistem syura dengan sistem demokrasi. Dalam sistem syura, hakim memberikan pengadilan berdasarkan keadilan dimana prinsip keadilan itu telah dijelaskan dalam Al-Quran..Contohnya, seseorang yang telah disahkan bersalah dan dijatuhkan hukuman maka tiada lagi pertikaian atau rayuan baginya dan seharusnya hukuman tersebut hendaklah segera dilaksanakan. Berlainan dengan bidang kuasa kehakiman dalam sistem demokrasi yang mana seseorang hakim boleh membenarkan seseorang yang telah disahkan bersalah dan dijatuhkan hukuman untuk mengemukakan rayuan ke Mahkamah Rayuan dan sekiranya diluluskan oleh yang DiPertuan Agong hukuman tersebut boleh diringankan seperti yang berlaku di Malaysia.
Oleh yang demikian, prinsip keadilan dan kebenaran telah dicabuli oleh suatu sistem yang dirangka mengikut akal fikiran manusia semata-mata. Ini jelas membuktikan sistem syura yang diamalkan pada zaman Khulafa’ ar-Rasyidin adalah berbeza sama sekali dengan sistem demokrasi yang diamalkan pada zaman sekarang.

PERBEZAAN ANTARA SISTEM SYURA DENGAN SISTEM DEMOKRASI
Dari segi bidang kuasa:

Dalam sistem Syura, bidang kuasa tertakluk kepada institusi kekhalifahan yakni kuasa seseorang khalifah terhad kepada peruntukkan kuasa yang telah disyariatkan dalam al-Quran. Maknanya seseorang khalifah itu perlu amanah dalam kepimpinannya dan haram baginya untuk pecah amanah. Seseorang khalifah dalam sistem syura perlu mempunyai ketegasan yang tinggi dalam soal mempertahankan syariat iaitu memperjuangkan kebenaran dan menghapuskan kebatilan.

Dalam sistem demokrasi pula, seseorang pemimpin itu mempunyai bidang kuasa yang luas termasuklah dalam perkara-perkara yang diharamkan dari segi syariat asalkan sesuatu perkara itu dipersetujui oleh majoriti rakyat. Sesuatu perkara yang diharamkan oleh syariat boleh menjadi halal dengan kuasa seseorang pemimpin itu asalkan difikirkan perlu dan mendapat sokongan majoriti rakyat.Dengan kata lain, bidang kuasa yang digunakan adalah berpandukan akal fikiran manusia ataupun mengikut logikal akal manusia semata-mata dan bukan berpaksikan Al-Quran dan As-Sunnah.

Justeru, dalam sistem syura seseorang khalifah itu juga menggunakan kuasanya berdasarkan garis panduan yang telah ditetapkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Sebagai contoh seseorang khalifah adalah haram baginya menerima atau memberi rasuah kerana rasuah dikira sebagai pecah amanah dari segi pemerintahannya. Berbeza sama sekali dengan sistem demokrasi di mana pemimpin- pemimpin yang berfahaman demokrasi menggunakan kuasa mereka berdasarkan perlembagaan negara yang di gubal yang mana perlembagaan yang digubal itu bukan menjadikan asas Al-Quran dan As-Sunnah sebagai rujukan utama dalam pembentukkan perlembagaan negara tersebut.

Sehubungan itu, dalam sistem syura khalifah-khalifah diwajibkan menjalankan pemerintahan atau menggunakan kuasa yang di amanahkan berasaskan prinsip kebenaran dan keadilan. Dalam sistem demokrasi pula, pemimpin-pemimpin menggunakan kuasanya adalah untuk kepentingan diri dan rakyat biarpun kuasa yang di gunakan adalah menjurus ke arah kebatilan, kemaksiatan ataupun kemungkaran. Contohnya, pemberian lesen kepada individu-individu tertentu dalam kes penjualan arak secara berleluasa di kawasan yang mana kebanyakan penduduknya adalah orang islam.

Dari segi bidang kuasa kehakiman pula, jelas menunjukkan perbezaan yang amat ketara antara sistem syura dengan sistem demokrasi. Dalam sistem syura, hakim memberikan pengadilan berdasarkan keadilan dimana prinsip keadilan itu telah dijelaskan dalam Al-Quran..Contohnya, seseorang yang telah disahkan bersalah dan dijatuhkan hukuman maka tiada lagi pertikaian atau rayuan baginya dan seharusnya hukuman tersebut hendaklah segera dilaksanakan. Berlainan dengan bidang kuasa kehakiman dalam sistem demokrasi yang mana seseorang hakim boleh membenarkan seseorang yang telah disahkan bersalah dan dijatuhkan hukuman untuk mengemukakan rayuan ke Mahkamah Rayuan dan sekiranya diluluskan oleh yang DiPertuan Agong hukuman tersebut boleh diringankan seperti yang berlaku di Malaysia.
Oleh yang demikian, prinsip keadilan dan kebenaran telah dicabuli oleh suatu sistem yang dirangka mengikut akal fikiran manusia semata-mata. Ini jelas membuktikan sistem syura yang diamalkan pada zaman Khulafa’ ar-Rasyidin adalah berbeza sama sekali dengan sistem demokrasi yang diamalkan pada zaman sekarang.

PERBEZAAN ANTARA SISTEM SYURA DENGAN SISTEM DEMOKRASI
Dari segi hak orang bukan Islam dalam pemerintahan negara Islam:

Sesungguhnya dalam sistem pemerintahan atau pentadbiran negara Islam, prinsip keadilan dan persamaan hak adalah penting dalam menjamin keselamatan dan kesejahteraan rakyatnya tidak kiralah umat Islam mahupun bukan Islam.Ini dapat dilihat pada zaman pemerintahan Rasullullah s.a.w yang telah berjaya menubuhkan sebuah negara Islam yang mengamalkan sistem pemerintahan dan perundangan yang berasaskan syariat islam. Semua rakyatnya mendapat hak yang adil dan saksama. Walaupun menghadapi tentangan daripada kaum Quraisy Makkah dan gangguan daripada Yahudi dan kaum bukan Islam. Ia terbentuk berdasarkan sebuah kanun atau perjanjian bertulis iaitu Piagam Madinah yang telah dibentuk berdasarkan wahyu.. Ia mengandungi beberapa fasal yang melibatkan hubungan antara orang Islam dan bukan Islam dan merangkumi aspek politik, agama, sosial, ekonomi dan ketenteraan. Dalam bidang politik, semua manusia adalah berprinsipkan sama rata dalam Islam. Sistem pemerintahan yang berasaskan sistem syura adalah tidak sama dengan sistem demokrasi yang telah dijalankan oleh negara kita sekarang ini. Ia dapat dliihat dari segi hak dan tanggugngjawab rakyatnya.

Melalui sistem syura, pemimpin dipilih berdasarkan akhlak yang baik,berilmu, adil dan memeiliki kecerdasan iaitu keupayaan untuk memikul tanggungjawab sebagai seorang pemimpin. Rakyatnya yang bernaung dibawah pemerintahan ini seharusnya taat terhadap pemerintahan negara. Selain mempunyai tanggungjawab, mereka juga mempunyai hak tertentu, tidak kiralah golongan Islam mahupun bukan Islam. Dalam sistem syura orang bukan Islam boleh mengeluarkan suara memberi pendapat mereka. Sungguhpun begitu, mereka tidak berhak campur tangan dalam pentadbiran orang Islam. Contohnya menjawat jawatan ketua dalam bidang tertentu seperti pendidikan, kewangan dan lain-lain lagi. Golongan ini hanya berhak menjadi wakil kepada kaumnya sahaja serta bertugas untuk menjaga kepentingan kaumnya. Dalam menjaga kepentingan kaumnya mereka boleh mengemukakan permasalahan yang dihadapi oleh kaumnya untuk dibincangkan bersama untuk diselesaikan. Mereka juga boleh meminta peruntukkan kewangan daripada majlis syura. Selain dari itu juga, mereka boleh meminta majlis syura meluluskan adat-adat keagamaan kaumnya sebagai menjaga hubungan sosial antara kaum. Dengan ini, jelaslah menunjukkan dalam teori politik Islam konsep kerajaaan adalah terhad. Golongan bukan Islam juga harus dilindungi kepentingannya seperti hartanya, nyawanya, dan lain-lain lagi dari bahaya.Walaupun mereka bukan dari agama Islam mereka adalah tergolong dalam rakyat yang bernaung dan tunduk serta patuh dibawah pemerintahan Islam

Dalam pemerintahan yang berasaskan demokrasi pula, golongan bukan Islam ini mempunyai hak yang sama dengan golongan orang Islam. Golongan bukan Islam ini berhak campur tangan dalam sistem pentadbiran dan pemerintahan. Mereka bebas untuk bersuara dan menjadi pemimpin dalam bidang pentadbiran seperti kewangan, pendidikan dan lain-lain lagi.Ia jelas sekali berbeza dengan sistem syura dimana golongan ini tidak terhad untuk menjadi wakil dan menjaga kepentingan kaumnya sahaja, malah mereka berhak untuk menjadi pemimpin kepada orang Islam. Contohnya ialah seperti bidang pendidikan, ekonomi, kewangan dan lain-lain lagi. Sebagai kesimpulannya jelaslah sistem syura adalah sejenis corak sistem pemerintahan yang adil dan menjaga hak-hak serta bertanggungjawab dalam menjaga kepentingan rakyatnya. Ini dapat dilihat pada zaman pemerintahan khalifah Umar Abd Khattab dimana dibawah sistem syura tentera Islam tidak dibenarkan merampas tanah-tanah orang bukan Islam dikawasan yang baru ditakluki. Kita juga boleh mengambil iktibar daripada peristiwa pengadilan yang dijalankan terhadap tawanan Yahudi bani Quraisy. Pengadilan ini dijalankan berdasarkan sistem syura.

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat dibuat di sini adalah sistem syura dan sistem demokrasi adalah dua sistem yang berbeza. Perbezaan yang terdapat pada kedua-dua sistem ini dapat dibezakan dari segi definisi, pemilihan khalifah/pemimpin, bidang kuasa, perundangan dan hak bersama.
Berdasarkan aspek-aspek ini demokrasi di dalam Islam telah mengariskan beberapa ciri demokrasi Islam kebebasan mengikut had undang-undang, kesamarataan di sisi undang-undang, kerajaan melalui persetujuan dan permusyawaratan dan proses pembuatan keputusan yang dimaklumkan melalui perbatasan perlembagaan. Undang-undang dalam negara Islam adalah berdasarkan sumber undang-undang Allah. Manakala undang-undang demokrasi liberal adalah berbentuk sekular. Ini termasuklah mengenai kedaulatan rakyat.

Undang-undang Islam juga dianggap sebagai satu nusus yang dianggap sah secara berkekalan. Mana-mana individu tidak berhak menggubalnya. Manakala di dalam demokrasi barat tidak ada undang-undang yang sah secara berkekalan dan boleh berubah-ubah. Ini menunjukkan bahawa rakyat di dalam negara Islam adalah tertakluk kepada pembatasan dan undang-undang Allah manakala bagi rakyat di sebuah negara demokrasi barat rakyat bebas menggubal undang-undang dan diluluskan oleh kabinet.

Akhir sekali, demokrasi berprinsip kedaulatan rakyat adalah berbeza dengan sebuah negara demokrasi Islam kerana rakyat dalam sebuah negara demokrasi Islam mempunyai perbatasan dan undang-undang yang wajib diikuti iaitu berlandaskan Agama. Manakala di sebuah negara demokrasi barat perlembagaan dan agama dua sistem yang diasingkan.

Bibliografi
Ahmad Syafii Maarif, 1987. Islam dan Masalah Kenegaraan, Lembaga Penilaian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Social. Indonesia.
Alias Othman, 1991. Asas-Asas Pemikiran Politik Islam. Kuala Lumpur.
ASY Syeikh ALLAMAH Muhamad Hussein Tabataba `E 1984 Gagasan Politik Islam, Dewan Pustaka Fajar Kuala lumpur.
H. Zainal Abidin Ahmad, 1977, Ilmu Politik Islam III Sejarah Islam dan Umatnya Sampai Sekarang, Jakarta.
H. Zainal Abidin 1977, Ilmu Politik Islam, Jakarta.
Idris Zakaria, 1991. Teori Politik Al-Farabi dan Masyarakat Melayu, Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur.
Klaus Ferdinand and Moohdi Mozaffari 1988, Islam: State and Society, Gurzon Press.
Dr. Lukman Thaib, 1995, Syura dan Aplikasinya Dalam Pemerintahan Pada Masa Kini, Kuala Lumpur.
Muhamad Asad, 1964. Azas-Azas Negara dan Pemerintahan Di Dalam Islam Terjemahan Drs. Muhammad Radjab, Jakarta.
Qamar-UD-DIN-Khan ...19.. , Maududis Theory of the State.
Syed Abul Al-Maududi, 1404, Teori Politik Islam.
Ta req Y. Ismael and Zacqueline S. Ismael 19 Government and Politics in Islam, London.
Dr. Zainal 1987. Filsafat Sejarah Ibn Khaldun, Bandong

fitnah rafizi terhadap pas

Naib Presiden PKR, Rafizi Ramli mengemukakan akuan bersumpah kepada Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia (SPRM) mendakwa kononnya orang tengah yang menyampaikan dedak itu ialah Datuk Nasharuddin Mat Isa, bekas Timbalan Presiden PAS.

Sebenarnya, Mahathir mahupun Rafizi mengutip “butir-butir” pendedahan mereka daripada laporan Sarawak Report. Bagaimanapun PAS mendedahkan dalam muktamarnya yang baru lalu, bahawa ia telahpun memulakan tindakan saman terhadap akhbar berkenaan

http://www.malaysia-today.net/2017/05/04/siapa-pula-sebenarnya-mengacau-perjuangan-pas/

adakah layak sistem demokrasi ini digunakan untuk mengatur urusan umat Islam

Idea liberalisme telah dikembangkan Barat dan diresap dalam pemikiran umat Islam. Liberalisme ini lahir daripada sistem demokrasi yang tulen. Sistem demokrasi ini juga digunakan di Malaysia untuk mengatur kehidupan rakyat.

Jadi adakah layak sistem demokrasi ini digunakan untuk mengatur urusan umat Islam sedangkan al-Quran dan Sunnah itu ditolak ke tepi? Perkara ini sangat pentingsebab istilah demokrasi ini tidak pernah wujud dalam sejarah Islam dan khilafah.

Tiba-tiba setelah kemunduran umat Islam dan kejatuhan Khilafah  Uthmaniyah, sistem demokrasi masuk dan digunakan kebanyakan wilayah umat Islam. Sistem demokrasi bukanlah sistem Islam dan tidak boleh dikaitkan dengan sistem syura.

Sistem syura yang dipraktikkan pada zaman Nabi SAW adalah berbeza. Oleh kerana Allah SWT menyebut di dalam al-Quran, maksudnya: “Urusan mereka (diputuskan) dengan syura di antara mereka.” (Surah Asy-Syura : 38) ALLAH SWT memerintahkan kita untuk melakukan syura.

Syura bermaksud mesyuarat atau perbincangan. Disebut dalam hadis, perbincangan ini terdiri daripada orang yang cerdik pandai dan berilmu. Untuk perbincangan agama memerlukan ahli syura yang menguasai ilmu seperti syarie, al-Quran, hadis, fiqah dan bahasa Arab, barulah dia layak menjadi ahli majlis syura.

Demokrasi bukan sistem Islam. Demokrasi adalah sistem yang berasaskan suara majoriti dan bergantung kepada pemikiran dan hawa nafsu manusia. Pilihan dibuat mungkin berdasarkan rasa suka, hubungan keluarga, membalas budi atau kepentingan tertentu.

Hal ini berbeza sama sekali dengan kaedah syura di dalam Islam. Ahli majlis syura yang memilih pemimpin hendaklah daripada kalangan orang yang adil, berilmu dan beramal dengan agama, serta tidak mempunyai apa-apa kepentingan. Mereka inilah yang layak memilih. Itu asas dalam Islam yang tidak boleh diubah.

Kita kini duduk dalam sistem demokrasi. Adakah ini bermakna kita harus menerima apa sahaja yang datang daripada sistem ini seperti demokrasi mutlak di negara Barat contohnya Denmark?

Sehingga menyebabkan wujud di sana pelacuran terbuka, bertelanjang sesuka hati di mana-mana atas nama hak asasi. Adakah ini yang kita inginkan?

Kita berkeinginan mengubah sistem ini. Moga-moga ALLAH berikan kita kekuatan, memudahkan urusan agar sistem ini diubah suatu hari nanti kepada sistem Islam yang adil dan telus.

Cuma sepanjang berada dalam sistem ini, kita hendaklah meminimumkan kemudaratan yang datang akibat sistem ini yang bergantung kepada hak dan nafsu manusia, dan bukan pada pemilihan yang betul. Sebab itulah kita perlu meminimumkan keberadaan kita dalam demokrasi.

Bagaimana caranya? Kaedah Islam iaitu “addharurah tuqaddar biqadariha” (darurat itu diukur dengan kadarnya). Sebaik habis darurat kita hendaklah kembali kepada asal. Saya selalu menggunakan analogi ini sehingga ada sebahagian orang mengolokolokkannya.

Tetapi ini analogi yang tepat untuk difahami. Kita terperangkap di dalam hutan dan kehabisan makanan melainkan yang ada pada masa itu hanyalah seekor babi. Kalau tidak makan babi tersebut akan menyebabkan kita mati atau memudaratkan maka kita terpaksa tangkap dan makan babi itu, tetapi tidak boleh memakannya sehingga kenyang.

Apabila habis mudarat maka kembali kepada hukum asal iaitu babi itu haram dimakan. Begitu juga dengan demokrasi yang perlu kita berusaha meminimumkannya. Apabila hendak memilih, pilihlah orang yang adil, dan bermanfaat kepada masyarakat setempat. Apabila memerintah, memerintahlah dengan adil.

Kita boleh cuba meminimumkannya setakat mana yang kita mampu. Mengenai isu undang-undang perlembagaan al-Quran dan Sunnah, ya kita perlu meletakkan Al-Quran dan As-Sunnah itu sebagai sasaran dan usaha untuk kita bergerak ke arahnya.

- Ust fathul Bari

Beza sistem demokrasi dan sistem syura

Idea liberalisme telah dikembangkan Barat dan diresap dalam pemikiran umat Islam. Liberalisme ini lahir daripada sistem demokrasi yang tulen. Sistem demokrasi ini juga digunakan di Malaysia untuk mengatur kehidupan rakyat.

Jadi adakah layak sistem demokrasi ini digunakan untuk mengatur urusan umat Islam sedangkan al-Quran dan Sunnah itu ditolak ke tepi? Perkara ini sangat pentingsebab istilah demokrasi ini tidak pernah wujud dalam sejarah Islam dan khilafah.

Tiba-tiba setelah kemunduran umat Islam dan kejatuhan Khilafah  Uthmaniyah, sistem demokrasi masuk dan digunakan kebanyakan wilayah umat Islam. Sistem demokrasi bukanlah sistem Islam dan tidak boleh dikaitkan dengan sistem syura.

Sistem syura yang dipraktikkan pada zaman Nabi SAW adalah berbeza. Oleh kerana Allah SWT menyebut di dalam al-Quran, maksudnya: “Urusan mereka (diputuskan) dengan syura di antara mereka.” (Surah Asy-Syura : 38) ALLAH SWT memerintahkan kita untuk melakukan syura.

Syura bermaksud mesyuarat atau perbincangan. Disebut dalam hadis, perbincangan ini terdiri daripada orang yang cerdik pandai dan berilmu. Untuk perbincangan agama memerlukan ahli syura yang menguasai ilmu seperti syarie, al-Quran, hadis, fiqah dan bahasa Arab, barulah dia layak menjadi ahli majlis syura.

Demokrasi bukan sistem Islam. Demokrasi adalah sistem yang berasaskan suara majoriti dan bergantung kepada pemikiran dan hawa nafsu manusia. Pilihan dibuat mungkin berdasarkan rasa suka, hubungan keluarga, membalas budi atau kepentingan tertentu.

Hal ini berbeza sama sekali dengan kaedah syura di dalam Islam. Ahli majlis syura yang memilih pemimpin hendaklah daripada kalangan orang yang adil, berilmu dan beramal dengan agama, serta tidak mempunyai apa-apa kepentingan. Mereka inilah yang layak memilih. Itu asas dalam Islam yang tidak boleh diubah.

Kita kini duduk dalam sistem demokrasi. Adakah ini bermakna kita harus menerima apa sahaja yang datang daripada sistem ini seperti demokrasi mutlak di negara Barat contohnya Denmark?

Sehingga menyebabkan wujud di sana pelacuran terbuka, bertelanjang sesuka hati di mana-mana atas nama hak asasi. Adakah ini yang kita inginkan?

Kita berkeinginan mengubah sistem ini. Moga-moga ALLAH berikan kita kekuatan, memudahkan urusan agar sistem ini diubah suatu hari nanti kepada sistem Islam yang adil dan telus.

Cuma sepanjang berada dalam sistem ini, kita hendaklah meminimumkan kemudaratan yang datang akibat sistem ini yang bergantung kepada hak dan nafsu manusia, dan bukan pada pemilihan yang betul. Sebab itulah kita perlu meminimumkan keberadaan kita dalam demokrasi.

Bagaimana caranya? Kaedah Islam iaitu “addharurah tuqaddar biqadariha” (darurat itu diukur dengan kadarnya). Sebaik habis darurat kita hendaklah kembali kepada asal. Saya selalu menggunakan analogi ini sehingga ada sebahagian orang mengolokolokkannya.

Tetapi ini analogi yang tepat untuk difahami. Kita terperangkap di dalam hutan dan kehabisan makanan melainkan yang ada pada masa itu hanyalah seekor babi. Kalau tidak makan babi tersebut akan menyebabkan kita mati atau memudaratkan maka kita terpaksa tangkap dan makan babi itu, tetapi tidak boleh memakannya sehingga kenyang.

Apabila habis mudarat maka kembali kepada hukum asal iaitu babi itu haram dimakan. Begitu juga dengan demokrasi yang perlu kita berusaha meminimumkannya. Apabila hendak memilih, pilihlah orang yang adil, dan bermanfaat kepada masyarakat setempat. Apabila memerintah, memerintahlah dengan adil.

Kita boleh cuba meminimumkannya setakat mana yang kita mampu. Mengenai isu undang-undang perlembagaan al-Quran dan Sunnah, ya kita perlu meletakkan Al-Quran dan As-Sunnah itu sebagai sasaran dan usaha untuk kita bergerak ke arahnya.

- Ust fathul Bari

TEORI-TEORI DEMOKRASI

TEORI-TEORI DEMOKRASI
Ada beberapa teori-teori demokrasi yaitu :
  1. Teori Demokrasi Klasik
Demokrasi, dalam pengertian klasik, pertama kali muncul pada abad ke-5 SM tepatnya di Yunani. Pada saat itu pelaksanaan demokrasi dilakukan secara langsung, dalam artian rakyat berkumpul pada suatu tempat tertentu dalam rangka membahas pelbagai permasalahan kenegaraan.
Bentuk negara demokrasi klasik lahir dari pemikiran aliran yang dikenal berpandangan a tree partite classification of state yang membedakan bentuk negara atas tiga bentuk ideal yang dikenal sebagai bentuk negara kalsik-tradisional. Para penganut aliran ini adalah Plato, Aristoteles, Polybius dan Thomas Aquino.
Plato dalam ajarannya menyatakan bahwa dalam bentuk demokrasi, kekuasaan berada di tangan rakyat sehingga kepentingan umum (kepentingan rakyat) lebih diutamakan. Secara prinsipil, rakyat diberi kebebasan dan kemerdekaan. Akan tetapi kemudian rakyat kehilangan kendali, rakyat hanya ingin memerintah dirinya sendiri dan tidak mau lagi diatur sehingga mengakibatkan keadaan menjadi kacau, yang disebut Anarki. Aristoteles sendiri mendefiniskan demokrasi sebagai penyimpangan kepentingan orang-orang sebagai wakil rakyat terhadap kepentingan umum. Menurut Polybius, demokrasi dibentuk oleh perwalian kekuasaan dari rakyat. Pada prinsipnya konsep demokrasi yang dikemukakan oleh Polybius mirip dengan konsep ajaran Plato. Sedangkan Thomas Aquino memahami demokrasi sebagai bentuk pemerintahan oleh seluruh rakyat dimana kepentingannya ditujukan untuk diri sendiri.
Prinsip dasar demokrasi klasik adalah penduduk harus menikmati persamaan politik agar mereka bebas mengatur atau memimpin dan dipimpin secara bergiliran.
  1. Teori Civic Virtue
Pericles adalah negarawan Athena yang berjasa mengembangkan demokrasi. Prinsip-prinsip pokok demokrasi yang dikembangkannya adalah:
  1. Kesetaraan warga negara
  2. Kemerdekaan
  3. Penghormatan terhadap hukum dan keadilan
  4. Kebajikan bersama
Prinsip kebajikan bersama menuntut setiap warga negara untuk mengabdikan diri sepenuhnya untuk negara, menempatkan kepentingan republik dan kepentingan bersama diatas kepentingan diri dan keluarga.
Di masa Pericles dimulai penerapan demokrasi langsung (direct democrazy). Model demokrasi ini bisa diterapkan karena jumlah penduduk negara kota masih terbatas, kurang dari 300.000 jiwa, wilayah nya kecil, struktur sosialnya masih sederhana dan mereka terlibat langsung dalam proses kenegaraan.
  1. Teori Social Contract
Teori kontrak sosial berkembang dan dipengaruhi oleh pemikiran Zaman Pencerahan (Enlightenment) yang ditandai dengan rasionalisme, realisme, dan humanisme, yang menempatkan manusia sebagai pusat gerak dunia. Pemikiran bahwa manusia adalah sumber kewenangan secara jelas menunjukkan kepercayaan terhadap manusia untuk mengelola dan mengatasi kehidupan politik dan bernegara. Dalam perspektif kesejarahan, Zaman Pencerahan ini adalah koreksi atau reaksi atas zaman sebelumnya, yaitu Zaman Pertengahan. Walau demikian, pemikiran-pemikiran yang muncul di Zaman Pencerahan tidaklah semuanya baru. Seperti telah disinggung di atas, teori kontrak sosial yang berkembang pada Zaman Pencerahan ternyata secara samar-samar telah diisyaratkan oleh pemikir-pemikir zaman-zaman sebelumnya seperti Kongfucu dan Aquinas. Yang jelas adalah bahwa pada Zaman Pencerahan ini unsur-unsur pemikiran liberal kemanusiaan dijadikan dasar utama alur pemikiran.
Hobbes, Locke dan Rousseau sama-sama berangkat dari, dan membahas tentang kontrak sosial dalam analisis-analisis politik mereka. Mereka sama-sama mendasarkan analisis-analisis mereka pada anggapan dasar bahwa manusialah sumber kewenangan. Akan tetapi tentang bagaimana, siapa mengambil kewenangan itu dari sumbernya, dan pengoperasian kewenangan selanjutnya, mereka berbeda satu dari yang lain. Perbedaan-perbedaan itu mendasar satu dengan yang lain, baik di dalam konsep maupun di dalam praksinya.
Dalam membangun teori kontrak sosial, hobbes, Locke dan Rousseau memulai dengan konsep kodrat manusia, kemudian konsep-konsep kondisi alamiah, hak alamiah dan hukum alamiah.
Hobbes menyatakan bahwa secara kodrati manusia itu sama satu dengan lainnya. Masing-masing mempunyai hasrat atau nafsu (appetite) dan keengganan (aversions), yang menggerakkan tindakan mereka. Appetites manusia adalah hasrat atau nafsu akan kekuasaan, akan kekayaan, akan pengetahuan, dan akan kehormatan. Sedangkan aversions manusia adalah keengganan untuk hidup sengsara dan mati. Hobbes menegaskan pula bahwa hasrat manusia itu tidaklah terbatas. Untuk memenuhi hasrat atau nafsu yang tidak terbatas itu, manusia mempunyai power. Oleh karena setiap manusia berusaha untuk memenuhi hasrat dan keengganannya, dengan menggunakan power-nya masing-masing, maka yang terjadi adalah benturan power antarsesama manusia, yang meningkatkan keengganan untuk mati.
Dengan demikian Hobbes menyatakan bahwa dalam kondisi alamiah, terdapat perjuangan untuk power dari manusia atas manusia yang lain. Dalam kondisi alamiah seperti itu manusia menjadi tidak aman dan ancaman kematian menjadi semakin mencekam. Karena kondisi alamiah tidak aman, maka dengan akalnya manusia berusaha menghindari kondisi perang satu dengan lainnya itu dengan menciptakan kondisi artifisial (buatan). Dengan penciptaan ini manusia tidak lagi dalam kondisi alamiah, tetapi sudah memasuki kondisi sipil.
Locke memulai dengan menyatakan kodrat manusia adalah sama antara satu dengan lainnya. Akan tetapi berbeda dari Hobbes, Locke menyatakan bahwa ciri-ciri manusia tidaklah ingin memenuhi hasrat dengan power tanpa mengindahkan manusia lainnya. Menurut Locke, manusia di dalam dirinya mempunyai akal yang mengajar prinsip bahwa karena menjadi sama dan independen manusia tidak perlu melanggar dan merusak kehidupan manusia lainnya. Oleh karena itu, kondisi alamiah menurut Locke sangat berbeda dari kondisi alamiah menurut Hobbes. Menurut Locke, dalam kondisi alamiah sudah terdapat pola-pola pengaturan dan hukum alamiah yang teratur karena manusia mempunyai akal yang dapat menentukan apa yang benar apa yang salah dalam pergaulan antara sesama.
Masalah ketidaktentraman dan ketidakamanan kemudian muncul, menurut Locke, karena beberapa hal. Pertama, apabila semua orang dipandu oleh akal murninya, maka tidak akan terjadi masalah. Akan tetapi, yang terjadi, beberapa orang dipandu oleh akal yang telah dibiarkan (terbias) oleh dorongan-dorongan kepentingan pribadi, sehingga pola-pola pengaturan dan hukum alamiah menjadi kacau. Kedua, pihak yang dirugikan tidak selalu dapat memberi sanksi kepada pelanggar aturan dan hukum yang ada, karena pihak yang dirugikan itu tidak mempunyai kekuatan cukup untuk memaksakan sanksi.
Oleh karena kondisi alamiah, karena ulah beberapa orang yang biasanya punya power, tidaklah menjamin keamanan penuh, maka seperti halnya Hobbes, Locke juga menjelaskan tentang upaya untuk lepas dari kondisi yang tidak aman penuh menuju kondisi aman secara penuh. Manusia menciptakan kondisi artifisial (buatan) dengan cara mengadakan kontrak sosial. Masing-masing anggota masyarakat tidak menyerahkan sepenuhnya semua hak-haknya, akan tetapi hanya sebagian saja. Antara pihak (calon) pemegang pemerintahan dan masyarakat tidak hanya hubungan kontraktual, akan tetapi juga hubungan saling kepercayaan(fiduciary trust).
            Seperti halnya Hobbes dan Locke, Rousseau memulai analisisnya dengan kodrat manusia. Pada dasarnya manusia itu sama. Pada kondisi alamiah antara manusia yang satu dengan manusia yang lain tidaklah terjadi perkelahian. Justru pada kondisi alamiah ini manusia saling bersatu dan bekerjasama. Kenyataan itu disebabkan oleh situasi manusia yang lemah dalam menghadapi alam yang buas. Masing-masing menjaga diri dan berusaha menghadapi tantangan alam. Untuk itu mereka perlu saling menolong, maka terbentuklah organisasi sosial yang memungkinkan manusia bisa mengimbangi alam.
Walaupun pada prinsipnya manusia itu sama, tetapi alam, fisik dan moral menciptakan ketidaksamaan. Muncul hak-hak istimewa yang dimiliki oleh beberapa orang tertentu karena mereka ini lebih kaya, lebih dihormati, lebih berkuasa, dan sebagainya. Organisasi sosial dipakai oleh yang punya hak-hak istimewa tersebut untuk menambah power dan menekan yang lain. Pada gilirannya, kecenderungan itu menjurus ke kekuasaan tunggal.
Untuk menghindar dari kondisi yang punya hak-hak istimewa menekan orang lain yang menyebabkan ketidaktoleranan (intolerable) dan tidak stabil, maka masyarakat mengadakan kontrak sosial, yang dibentuk oleh kehendak bebas dari semua (the free will of all), untuk memantapkan keadilan dan pemenuhan moralitas tertinggi. Akan tetapi kemudian Rousseau mengedepankan konsep tentang kehendak umum (volonte generale)untuk dibedakan dari hanya kehendak semua (omnes ut singuli). Kehendak bebas dari semua tidak harus tercipta oleh jumlah orang yang berkehendak (the quantity of the ‘subjects’), akan tetapi harus tercipta oleh kualitas kehendaknya (the quality of the ‘object’ sought).
  1. Teori trias politica
Trias politica atau teori mengenai pemisahan kekuasaan, di latar belakangi pemikiran bahwa kekuasaan-kekuasaan pada sebuah pemerintahan yang berdaulat tidak dapat diserahkan kepada orang yang sama dan harus dipisahkan menjadi dua atau lebih kesatuan kuat yang bebas untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh pihak yang berkuasa. Dengan demikian diharapkan hak-hak asasi warga negara dapat lebih terjamin.
Dalam bukunya yang berjudul L’esprit des Louis Montesquieu membagi kekuatan negara menjadi tiga kekuasaan agar kekuasaan dalam negara tidak terpusat pada tangan seorang raja penguasa tunggal, yaitu sebagai berikut.
  1. Legislatif, yaitu kekuasaan untuk membentuk undang-undang.
  2. Eksekutif, yaitu kekuasaan untuk menjalankan undang-undang.
  3. Legislatif, yaitu kekuasaan untuk mengawasi pelaksanaan undang-undang (mengadili).
Ide pemisahan kekuasaan tersebut, menurut Montesquieu dimaksudkan untuk memelihara kebebasan politik, yang tidak akan terwujud kecuali bila terdapat keamanan masyarakat dalam negeri. Montesquieu menekankan bahwa satu orang atau lembaga akan cenderung untuk mendominasi kekuasaan dan merusak keamanan masyarakat tersebut bila kekuasaan terpusat padanya. Oleh karenanya, dia berpendapat bahwa agar pemusatan kekuasaan tidak terjadi, haruslah ada pemisahan kekuasaan yang akan mencegah adanya dominasi satu kekuasaan terhadap kekuasaan lainnya.
DEMOKRASI KOMUNIS DAN LIBERAL-KAPITALIS
  1. Demokrasi Komunis (Marxisme-Leninisme)
Demokrasi komunis adalah demokrasi yang sangat membatasi agama pada rakyatnya, dengan prinsip agama dianggap candu yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari pemikiran yang rasional dan nyata.
Demokrasi komunis muncul karena adanya komunisme. Komunisme atau Marxisme adalah ideologi yang digunakan partai komunis diseluruh dunia, sedangkankomunis internasional merupakan racikan ideologi berasal dari pemikiran Lenin sehingga dapat pula disebut “Marxisme-Leninisme”.
Ada beberapa gagasan dari Lenin yaitu sebagai berikut.
  1. Melihat pentingnya peranan kaum petani dalam menyelenggarakan revolusi, sedangkan Marx hanya melihat peranan kaum buruh.
  2. Melihat peranan suatu partai politik yang militan yang terdiri atasprofessionalrevolutionaries untuk memimpin kaum proletar dan merumuskan cara-cara merebut kekuasaan, sedangkan Marx berpendapat bahwa kaum proletar akan bangkit sendiri.
  3. Melihat imperialisme sebagai gejala yang memperpanjang hidup kapitalisme sehingga kapitalisme sampai saat itu belum mati, sedangkan Marx berpendapat bahwa kapitalisme pada puncak perkembangannya akan menemui ajalnya dan diganti oleh komunisme.
Komunisme sebagai anti kapitalisme menggunakan sistem sosialisme sebagai alat kekuasaan, dimana kepemilikan modal atas individu sangat dibatasi. Apabila Amerika Serikat identik dengan kapitalisme, maka Rusia identik dengan komunisme. Setelah Lenin ada Stalin yang gagasannya mengenai revolusi ialah bahwa komunisme dapat diselenggarakan di satu negara dulu, yaitu di Uni Soviet, dianggap menyimpang dari ajaran Marx. Di masa inilah muncul istilah Komunis Internasional (Komintern), dimana Moskow menjadi pusat komunisme. Kebijakan Moskow adalah kebijakan dunia komunis. dari sini timbul masalah yang sangat mendasar. Komunisme muncul sebagai hasil adaptasi lingkungan dari sosialisme. Namun melalui komintern segala macam adaptasi terhadap ajaran komunis tidak dapat dilakukan di luar Moskow. Padahal kondisi di tiap negara komunis tidaklah sama dengan Moskow.
  1. Demokrasi Barat (Liberal-Kapitalis)
Demokrasi Liberal adalah suatu demokrasi yang menempatkan kedudukan badan legislatif lebih tinggi dari pada badan eksekutif. Demokrasi liberal lebih menekankan pada pengakuan terhadap hak-hak warga negara, baik sebagai individu ataupun masyarakat. Dan karenanya lebih bertujuan menjaga tingkat represetansi warga negara dan melindunginya dari tindakan kelompok atau negara lain. Dalam demokrasi liberal, keputusan-keputusan mayoritas (dari proses perwakilan atau langsung) diberlakukan pada sebagian besar bidang-bidang kebijakan pemerintah yang tunduk pada pembatasan-pembatasan agar keputusan pemerintah tidak melanggar kemerdekaan dan hak-hak individu seperti tercantum dalam konstitusiCiri-ciri demokrasi liberal sebagai berikut.
  1. Kontrol terhadap negara, alokasi sumber daya alam dan manusia dapat terkontrol
  2. Kekuasaan eksekutif dibatasi secara konstitusional
  3. Kekuasaan eksekutif dibatasi oleh peraturan perundangan
  4. Kelompok minoritas (agama, etnis) boleh berjuang untuk memperjuangkan dirinya
Demokrasi liberal pertama kali dikemukakan pada Abad Pencerahan oleh penggagas teori kontrak sosial seperti Thomas Hobbes, John Locke, dan Jean-Jacques Rousseau. Semasa Perang Dingin, istilah demokrasi liberal bertolak belakang dengan komunisme ala Republik Rakyat. Pada zaman sekarang demokrasi konstitusional umumnya dibanding-bandingkan dengan demokrasi langsung atau demokrasi partisipasi.
Demokrasi liberal dipakai untuk menjelaskan sistem politik dan demokrasi barat di Amerika Serikat,Britania Raya, Kanada. Konstitusi yang dipakai dapat berupa republik(Amerika Serikat, India, Perancis) atau monarki konstitusional (Britania Raya, Spanyol). Demokrasi liberal dipakai oleh negara yang menganut sistem presidensial (Amerika Serikat), sistem parlementer (sistem Westminster: Britania Raya dan Negara-Negara Persemakmuran) atau sistem semi presidensial (Perancis).
Kapitalisme mempunyai pengertian sebagai perbuatan individu-individu yang besar yang melibatkan kontrol terhadap sumber- sumber finansial uang luas dan menghasilkan kekayaan kepada seseorang sebagai suatu hasil dari spekulasi, peminjaman uang, dan perusahaan komersial. Kapitalisme juga dapat berarti sebagai suatu sistem perkonomian, yang terletak pada suatu organisasi dari para penerima upah bebas secara legal, dengan suatu tujuan untuk mendapatkan keuntungan uang, dari para pemilik modal dan agen-agennya. Sederhananya adalah bahwa kapitalisme merupakan usaha pencarian keuntungan, dan keuntungan yang dapat diperbaharui untuk selamanya, dengan usaha kapitalistis yang dilakukan secara terus menerus. Dalam suatu masyarakat yang kapitalistis, kesempatan untuk meraih keuntungan yang tidak diambil akan menghasilkan kehancuran.
Sistem kapitalis sebagai pengganti sistem komunis memberikan dampak yang sangat buruk bagi perkembangan perekonomian dunia. Kapitalis berasal dari kata capital, secara sederhana dapat diartikan sebagai ‘modal’. Didalam sistem kapitalis, kekuasaan tertinggi dipegang oleh pemilik modal, dimana dalam perekonomian modern pemilik modal dalam suatu perusahaan merupakan para pemegang saham. Pemegang saham sebagai pemegang kekuasaan tertinggi disebuah perusahaan akan melimpahkan kekuasaan tersebut kepada top manajemen yang diangkat melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa teori-teori demokrasi terdapat banyak perbedaan dan saling bertolak belakang. Selain itu dalam teori nya saja masih terdapat kekurangan. Dalam teori pasti ada praktik, sekarang tergantung negara saja, jika ingin menggunakan demokrasi yang menurutnya baik dalam praktiknya. Karean adapun teori jika tak dipraktikkan sama saja dengan tidak.
REFERENSI
Budiardjo, Mirriam, 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama
Ubaedillah, A, 2008. Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Jakarta. Kencana Prenada Media Group
Drs. Chotib, 2006. Kewarganegaraan Menuju Masyarakat Madani. Jakarta. Yudhistira
Suhelmi, Ahmad, 2001. Pemikiran Politik Barat. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama


https://dwiarifwibowo.wordpress.com/2015/04/01/teori-teori-demokrasi/
http://rigormotisrealitas.blogspot.com
http://www.forumsains.com/index.php?page=38
http://radhitisme.blogspot.com/2009/02/teori-kontrak-sosial-dari-hobbes-locke.html
http://duniakita-coven.blogspot.com/2009/01/konsep-dan-teori-trias-politica.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Komunisme
http://www.scribd.com/doc/16075778/Demokrasi

Ads1